<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Javasun3&#039;s</title>
	<atom:link href="http://javasun3.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://javasun3.wordpress.com</link>
	<description>nothing imposible</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 12:07:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='javasun3.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Javasun3&#039;s</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://javasun3.wordpress.com/osd.xml" title="Javasun3&#039;s" />
	<atom:link rel='hub' href='http://javasun3.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>RUMAH TRADISIONAL JOGLO</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2011/08/07/rumah-tradisional-joglo/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2011/08/07/rumah-tradisional-joglo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 14:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[joglo]]></category>
		<category><![CDATA[kuno]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[traditional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Rumah Tradisional Joglo Rumah tinggal orang Jawa menjadi lebih sempurna bentuknya dibandingkan pada bentukan sebelumnya. Bentuk sebelumnya sangat sederhana seperti bentuk bangunan “panggangpe”, “kampung” dan “limasan”. Bangunan yang lebih sempurna secara structural adalah bangunan tradisional bentuk “Joglo”. Bangunan ini secara umum mempunyai denah berbentuk bujur sangkar, mempunyai empat buah tiang pokok ditengah peruangannya yang kita <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=460&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong>Rumah Tradisional Joglo</strong></div>
<p><a href="http://javasun3.wordpress.com/2011/08/07/rumah-tradisional-joglo/joglo/" rel="attachment wp-att-461"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-461" title="Joglo" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/08/joglo.jpg?w=150&#038;h=139" alt="" width="150" height="139" /></a>Rumah tinggal orang Jawa menjadi lebih sempurna bentuknya dibandingkan pada bentukan sebelumnya. Bentuk sebelumnya sangat sederhana seperti bentuk bangunan “panggangpe”, “kampung” dan “limasan”. Bangunan yang lebih sempurna secara structural adalah bangunan tradisional bentuk “Joglo”. Bangunan ini secara umum mempunyai denah berbentuk bujur sangkar, mempunyai empat buah tiang pokok ditengah peruangannya yang kita sebut sebagai “saka guru’. Saka guru berfungsi untuk menopang blandar “tumpang sari” yang bersusun keatas semakin keatas semakin melebar dan biasanya berjumlah ganjil serta diukir. Ukiran pada tumpang sari ini menandakan status sosial pemiliknya. Untuk mengunci struktur saka guru diberikan “sunduk” yang disebut sebagai “koloran” atau “kendhit”. Letak koloran ini terdapat di bawah tumpang sari yang berfungsi mengunci dan menghubungkan ke empat “saka guru” menjadi satu kesatuan.Tumpang sari berfungsi sebagai tumpuan kayu usuk untuk menahan struktur “brunjung dan molo serta usuk yang memanjang sampai tiang “emper” bangunan Joglo. Dalam perkembangannya. Bangunan Joglo ini memiliki banyak variasi perubahan penambahan-penambahan struktur yang semakin mempercantik Rumah adat ini.</p>
<p>Beberapa variasi bangunan “joglo” ini antara lain :<span id="more-460"></span></p>
<p>1. Rumah Adat tradisional Joglo limasan lawakan atau sering disebut “joglo lawakan”.</p>
<div>2. Rumah Adat tradisional Joglo Sinom</div>
<div>3. Rumah Adat tradisional Joglo Jompongan</div>
<div>4. Rumah Adat tradisional Joglo Pangrawit</div>
<div>5. Rumah Adat tradisional Joglo Mangkurat</div>
<div>6. Rumah Adat tradisional Joglo Hageng</div>
<div>7. Rumah Adat tradisional Joglo Semar Tinandhu</div>
<div><a href="http://javasun3.wordpress.com/2011/08/07/rumah-tradisional-joglo/joglo-ukir/" rel="attachment wp-att-462"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-462" title="joglo ukir" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/08/joglo-ukir.jpg?w=150&#038;h=113" alt="" width="150" height="113" /></a></div>
<p>Membangun atap rumah joglo, yang kini digemari lagi, tidak boleh sembarangan. Selain nilai filosofis yang terkandung, salah meletakkan tiang bisa berakibat fatal pada konstruksinya.</p>
<p>Menurut Heinz Frick dalam buku Ilmu Konstruksi Bangunan jilid II, arti dan fungsi konstruksi atap adalah sebagai pelindung manusia terhadap cuaca, baik pelindung terhadap panas maupun hujan. Curah hujan di Indonesia cukup besar, sehingga air hujan yang jatuh di permukaan atap harus cepat disalurkan ke dalam tanah. Untuk itu dibutuhkan kemiringan bidang atap yang cukup besar, yaitu 30<sup>o</sup>. Dengan ini, diharapkan, air hujan dapat langsung dibuang dari permukaan atap melalui talang horisontal. Talang ini terpasang di sepanjang bibir permukaan bidang atap.</p>
<p>Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa bentuk atap bangunan tradisional di Indonesia memiliki kemiringan yang cukup curam. Ini bisa dibuktikan dengan berbagai bentuk atap berlapis rumbia atau sirap yang berasal dari barat sampai timur Indonesia. Bentuk atap bangunan tradisional tersebut rata-rata memiliki kemiringan sekitar 30<sup>o</sup>. Contohnya adalah atap rumah joglo di Jawa, rumah gadang di Sumatera Barat, rumah tradisional Betawi, sampai rumah beratap setengah lingkaran suku Dani di pedalaman Papua. Sekarang banyak ditemui rumah-rumah gadang beratap seng atau rumah Betawi beratap genteng. Meskipun penutup permukaan atap dari seng, yang kemiringannya lebih fleksibel, tapi tetap saja atap tradisional masih curam.</p>
<p><strong>Konsep Joglo</strong></p>
<p>Salah satu bentuk atap dari bangunan tradisional Indonesia adalah joglo. Bangunan beratap joglo jenisnya sangat banyak, yang dibedakan berdasarkan fungsi bangunan yang ada di bawahnya. Pada intinya, bentuk bangunan yang beratap joglo memiliki karakteristik bentuk struktur atap yang khas.</p>
<p>Pembangunan rumah tradisional joglo yang masih kental tradisinya, berdasarkan filosofi bangunan joglo, harus menggunakan kayu jati. Kayu jati ini juga harus sesuai dengan karakteristik tertentu yang ditentukan menurut letak dan fungsi dari tiang-tiangnya. Contohnya, kayu jati yang berasal dari pohon dengan cabang dua atau cabang tiga digunakan untuk kolom atau tiang atau soko tertentu. Menurut kepercayaan, penggunaan kayu yang sesuai dengan syarat akan dapat mendatangkan hal-hal yang positif bagi penghuni nantinya.</p>
<p>Apapun bentuk pohonnya, ada satu pemahaman struktur yang harus dipahami, yaitu tiang atau soko akan menyalurkan beban atap ke elemen struktur lain untuk sampai ke dalam tanah. Karena alasan inilah soko harus kokoh. Bayangkan saja, soko tersebut harus menyalurkan beban dari rangka atap seperti genting, kasau atau usuk, dan gording.</p>
<p><strong>Jenis Tiang (Soko)</strong></p>
<p>Masing-masing tiang memiliki nama sesuai dengan letaknya pada bangunan tersebut. Satu atau beberapa tiang yang menyokong atap yang paling tinggi disebut soko guru, tiang yang letaknya lebih luar dari soko guru adalah soko rowo, sedangkan tiang yang menyokong atap bagian paling luar disebut soko emper.</p>
<p>Selain itu, ada beberapa tiang yang digunakan untuk jenis bangunan beratap joglo yang lainnya, yaitu soko bentung, yang letaknya menggantung di antara bagian atap paling atas dengan atap di bawahnya. Sementara itu, soko santen adalah tiang yang tidak langsung menyokong atap, tapi menyokong gelagar panjang pada bangunan besar beratap joglo.</p>
<p><strong>Konstruksi Atap Joglo</strong></p>
<p>Konstruksi rangka atap joglo terdiri dari beberapa tiang yang disebut soko. Konstruksi atap joglo mutlak memiliki tiang-tiang yang dikenal dengan nama soko guru. Tanpa soko guru, maka atap rumah tidak bisa disebut sebagai atap joglo. Bila konstruksi atap joglo murni diterapkan pada rumah tinggal, maka soko yang berfungsi sebagai penyokong atap dengan kemiringan atap cukup curam tidak boleh dihilangkan.</p>
<p>Masing-masing jenis tiang tersebut menyokong atap yang memiliki kemiringan yang berbeda-beda. Semakin ke arah keluar, kemiringan atap akan semakin landai. Walaupun landai, tetapi kemiringan atap yang tersebut harus dapat menyalurkan air dari permukaan bidang atap dengan baik. Selain itu, harus diperhatikan juga dalam menentukan kemiringan atap, bahwa atap dengan penutup atap genteng yang terlalu landai akan mengakibatkan kebocoran.</p>
<p>Atap berbentuk joglo banyak menggunakan material kayu, mulai dari kayu polos sampai kayu yang penuh ornamen. Hal ini mengakibatkan beban yang harus disalurkan untuk sampai ke tanah oleh masing-masing soko cukup berat. Sebenarnya beban yang dipikul oleh soko dapat dihitung, yaitu dengan cara mengetahui luas area penutup atap yang disokong oleh masing-masing soko. Luas area tersebut kemudian dikalikan dengan beban atap per meter persegi, sehingga didapat beban atap yang harus dipikul oleh masing-masing soko atau tiang. Akibatnya, jumlah beban yang disalurkan oleh soko tersebut harus lebih kecil dibandingkan dengan tegangan tanah per sentimeter persegi. Bila beban yang disalurkan oleh soko lebih besar dari tegangan tanah, maka pondasi akan melesak.</p>
<p><strong>Menerapkan Model Joglo</strong></p>
<p>Sekarang ini konsep pembangunan atap joglo sulit diterapkan, karena kayu yang dibutuhkan memiliki syarat-syarat tertentu dan cara pembangunannya pun membutuhkan kesabaran yang tinggi. Sementara itu, beberapa tiang yang disyaratkan konstruksi atap joglo, tidak dapat dihilangkan karena memiliki nilai filosofi dan fungsi tertentu.</p>
<p>Filofosi atap joglo mengharuskan hadirnya soko sebagai kolom-kolom pembagi ruang. Pembagian ruang menjadi tidak fleksibel karena adanya tiang-tiang atau soko sebagai penyalur beban atap. Bila tetap ingin menggunakan filosofi konstruksi atap joglo, pembagian ruang-ruangnya pun harus mengikuti letak dari soko tersebut.</p>
<p>Kesulitan timbul apabila luasan ruang yang tercipta dari soko tersebut lebih kecil dari kebutuhan penghuni. Cara memperluas ruang misalnya dengan memundurkan dinding pembagi ruang sampai beberapa meter. Namun, apa yang terjadi? Soko akan berada di tengah-tengah ruang. Padahal, tidak nyaman jika tiang-tiang tersebut berada di tengah-tengah ruang.</p>
<p>Selain itu, karena keterbatasan lahan, rumah jaman sekarang biasanya memiliki dimensi lebih kecil dibandingkan rumah jaman dahulu. Menempatkan tiang atau soko di tengah ruangan yang kecil jelas tidak bijaksana.</p>
<p>Agar keinginan menerapkan konstruksi atap joglo masih dapat dilaksanakan, maka sah saja apabila menggunakan model atap joglo tetapi menggunakan konstruksi atap limasan. Ini salah satu alternatif agar pembagian ruang masih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan penghuni, tetapi masih dapat memakai atap model joglo.</p>
<p>(Rita Laksmitasari/www.tabloidrumah.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=460&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2011/08/07/rumah-tradisional-joglo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/08/joglo.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Joglo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/08/joglo-ukir.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">joglo ukir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MULTIKULTURALISME</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2011/07/26/multikulturalisme/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2011/07/26/multikulturalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2011 15:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[multikulturalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut. Definisi Multikulturalisme berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=454&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Multikulturalisme</strong> adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.</p>
<h2>Definisi</h2>
<p>Multikulturalisme berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepentingan tertentu.</p>
<ul>
<li>“Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang <span id="more-454"></span>kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007)</li>
<li>Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (<em>“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”</em>; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).</li>
<li>Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174)</li>
<li>Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000)</li>
<li>Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).</li>
</ul>
<h2>Sejarah Multikulturalisme</h2>
<p>Multikulturalisme bertentangan dengan <strong>monokulturalisme</strong> dan <strong>asimilasi</strong> yang telah menjadi norma dalam paradigma negara-bangsa (<em>nation-state</em>) sejak awal abad ke-19. Monokulturalisme menghendaki adanya kesatuan budaya secara normatif (istilah 'monokultural' juga dapat digunakan untuk menggambarkan homogenitas yang belum terwujud (<em>pre-existing homogeneity</em>). Sementara itu, asimilasi adalah timbulnya keinginan untuk bersatu antara dua atau lebih kebudayaan yang berbeda dengan cara mengurangi perbedaan-perbedaan sehingga tercipta sebuah kebudayaan baru.</p>
<p>Multikulturalisme mulai dijadikan kebijakan resmi di negara berbahasa-Inggris (<em>English-speaking countries</em>), yang dimulai di Kanada pada tahun 1971.Kebijakan ini kemudian diadopsi oleh sebagian besar anggota Uni Eropa, sebagai kebijakan resmi, dan sebagai konsensus sosial di antara elit.<sup>[<em>rujukan?</em>]</sup> Namun beberapa tahun belakangan, sejumlah negara Eropa, terutama Belanda dan Denmark, mulai mengubah kebijakan mereka ke arah kebijakan monokulturalisme. Pengubahan kebijakan tersebut juga mulai menjadi subyek debat di Britania Raya dam Jerman, dan beberapa negara lainnya.</p>
<h2>Jenis Multikulturalisme</h2>
<p>Berbagai macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):</p>
<ol>
<li>Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.</li>
<li>Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.</li>
<li>Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (<em>equality</em>) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.</li>
<li>Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (<em>concern</em>) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.</li>
<li>Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.</li>
</ol>
<h2>Multikulturalisme di Indonesia</h2>
<p>Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Masyarakat dengan berbagai keanekaragaman tersebut dikenal dengan istilah mayarakat multikultural. Bila kita mengenal masyarakat sebagai sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka mampu mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu (Linton), maka konsep masyarakat tersebut jika digabungkan dengan multikurtural memiliki makna yang sangat luas dan diperlukan pemahaman yang mendalam untuk dapat mengerti apa sebenarnya masyarakat multikultural itu.</p>
<p>Multikultural dapat diartikan sebagai keragaman atau perbedaan terhadap suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga masyarakat multikultural dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Setiap masyarakat akan menghasilkan kebudayaannya masing-masing yang akan menjadi ciri khas bagi masyarakat tersebut.</p>
<p>Dari sinilah muncul istilah multikulturalisme. Banyak definisi mengenai multikulturalisme, diantaranya multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia -yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan- yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahamni sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam “politics of recognition” (Azyumardi Azra, 2007). Lawrence Blum mengungkapkan bahwa multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain. Berbagai pengertian mengenai multikulturalisme tersebut dapat ddisimpulkan bahwa inti dari multikulturalisme adalah mengenai penerimaan dan penghargaan terhadap suatu kebudayaan, baik kebudayaan sendiri maupun kebudayaan orang lain. Setiap orang ditekankan untuk saling menghargai dan menghormati setiap kebudayaan yang ada di masyarakat. Apapun bentuk suatu kebudayaan harus dapat diterima oleh setiap orang tanpa membeda-bedakan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain.</p>
<p>Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.</p>
<p>Dalam konsep multikulturalisme, terdapat kaitan yang erat bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan bhineka tunggal ika serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya multikulturalisme di masyarakat</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/454/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/454/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/454/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=454&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2011/07/26/multikulturalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benteng Williem I / Benteng Pendem Ambarawa</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2011/07/03/benteng-williem-i-benteng-pendem-ambarawa/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2011/07/03/benteng-williem-i-benteng-pendem-ambarawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2011 09:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>
		<category><![CDATA[ambarawa]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[benteng]]></category>
		<category><![CDATA[pendem]]></category>
		<category><![CDATA[penjara]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Benteng Willem I diperkirakan dibangun pada tahun 1800-an berlokasi di Ambarawa. Benteng yang sekarang digunakan sebagai penjar ( LP ) ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Selain tidak terawat juga sebagian bangunan malah digunakan sebagai sarang burung walet. Bangunan sejarah ini seharusnya dipelihara dengan baik sebagai warisan sejarah serta dikelola dengan baik supaya mempunyai daya tarik <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=426&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://javasun3.wordpress.com/2011/07/03/benteng-williem-i-benteng-pendem-ambarawa/6a7c6823-2/" rel="attachment wp-att-427"><img class="alignright size-medium wp-image-427" title="Benteng Williem" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/07/6a7c6823.jpg?w=300&#038;h=223" alt="" width="300" height="223" /></a><strong>Benteng Willem I</strong> diperkirakan dibangun pada tahun 1800-an berlokasi di Ambarawa. Benteng yang sekarang digunakan sebagai penjar ( LP ) ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Selain tidak terawat juga sebagian bangunan malah digunakan sebagai sarang burung walet. Bangunan sejarah ini seharusnya dipelihara dengan baik sebagai warisan sejarah serta dikelola dengan baik supaya mempunyai daya tarik wisata</p>
<p>sejarah.<a href="http://javasun3.wordpress.com/2011/07/03/benteng-williem-i-benteng-pendem-ambarawa/a60775d4-2/" rel="attachment wp-att-428"><img class="alignleft size-medium wp-image-428" title="benteng pendem" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/07/a60775d4.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>.</p>
<p><span id="more-426"></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://javasun3.wordpress.com/2011/07/03/benteng-williem-i-benteng-pendem-ambarawa/2009-vakantie-335/" rel="attachment wp-att-446"><img class="size-medium wp-image-446 aligncenter" title="lorong" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/07/2009-vakantie-335.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://javasun3.wordpress.com/2011/07/03/benteng-williem-i-benteng-pendem-ambarawa/terowongan/" rel="attachment wp-att-445"><img class="aligncenter size-medium wp-image-445" title="terowongan" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/07/terowongan.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/426/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=426&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2011/07/03/benteng-williem-i-benteng-pendem-ambarawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/07/6a7c6823.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Benteng Williem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/07/a60775d4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">benteng pendem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/07/2009-vakantie-335.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">lorong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2011/07/terowongan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">terowongan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SULUK LING LUNG SUNAN KALIJAGA</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/26/suluk-ling-lung-sunan-kalijaga/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/26/suluk-ling-lung-sunan-kalijaga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 19:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[kalijaga]]></category>
		<category><![CDATA[linglung]]></category>
		<category><![CDATA[suluk]]></category>
		<category><![CDATA[sunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[SULUK LING LUNG SUNAN KALIJAGA (SYEH MELAYA) Karangan : Iman Anom Tahun 19806 Caka / 1884 M BRAMARA NGISEP SARI PUPUH I DHANDHANGGULA 1. Jumadilawwal puruning nulis, Isnen Kliwon tanggal ping pisan, tahun Je mangsa destone, nenggih sengkalanipun, “Ngerasa sirna sarira Ji”, turunan saking kitab, Duryat kang linusur, sampun kirang pangaksama, ingkang maca kitab niki <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=412&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<div>
<h2 style="text-align:center;">SULUK LING LUNG<br />
SUNAN KALIJAGA (SYEH MELAYA)<br />
Karangan : Iman Anom<br />
Tahun 19806 Caka / 1884 M</h2>
<h2 style="text-align:center;"><strong><strong>BRAMARA  NGISEP SARI<br />
PUPUH I<br />
DHANDHANGGULA</strong></strong></h2>
<h3>1. Jumadilawwal puruning nulis, Isnen  Kliwon tanggal ping pisan, tahun Je mangsa destone, nenggih  sengkalanipun, “Ngerasa sirna sarira Ji”, turunan saking kitab, Duryat  kang linusur, sampun kirang pangaksama, ingkang maca kitab niki sampun  kenging, kula den apuntena.</h3>
<h3>2. Pawartane pandhita linuwih, ingkang  sampun saget sami pejah, pejah sajroning uripe, sanget kepenginipun,  pawartane kang sampun urip, marma ngelampahi kesah, tan unigeng luput,  anderpati tan katedah, warta ingkang kagem para Nabi Wali, mila wangsul  kewala.</h3>
<h3>3. Ling lang ling lung sinambi angabdi,  saking datan amawi sabala, kabeka dene nafsune, marmannya datan kerup,  dennya amrih wekasing urip, dadya napsu ingobat, kabanjur kalantur, eca  dhahar lawan nendra, saking tyas awon perang lan nepsu neki, sumendhe  kersaning Hyang.<span id="more-412"></span></h3>
<h3>4. Ling lang ling lung anedheng Hyang  Widhi, mugi-mugi binuka Hyang Sukma, den legakna ing atine, sakayun  yawunnipun, marga dadi sembah lan puji, saking telasing manah, pramila  nenuwun, nanging tan apunten ing Hyang saking mboten saged nembah lawan  muji, ngawur datan uninga.</h3>
<h3>5. Ling lang ling lung pan kendel  pribadi, tanpa rewang pan ucek-ucekan, yetukaran pada dewe, tan adoh  swaranipun, pan gumrejeg padu tan enting, pan rebut kalah menang, tan  ana rinebut, lir ngrebut prajeng Ngastina, lali kadhang miwah bapa anak  rabbi, jiwa raga tan ketang.</h3>
<h3>6. Ling lang ling lung tan weruh ing  isin, saking kedah uningeng ing warta, sinahu tapa lan luwe, yen ana  kanca rawuh, melu mangan pan datan eling yen mungkur kancanira, tan  mangan saumur, saking tan ana pinangan, ling lang ling lung angon paesan  pribadi, tansah nagih buruhan.</h3>
<h3>7. Ling lang ling lung tan olih,  anenagih ngrejeg tanpo potang, kang tinagih meneng bae, pan nyata nora  nyambut, kang anagih awira-wiri, tan ana beda nira, Syeh Malaya iku, wit  puruhita atapa, mring Jeng Sunan Benang kinen tengga kang cis, tan kena  yen kesaha.</h3>
<h3>8. Ling lang ling lung pan sang mendha  luwih, buda teja tequde sarira, upamakken ing sanise, wonten sujalma  luhung, putra Tuban Rahaden Syahid, duk sepuh nama Sunan, Kalijaga  sampun, langkung sinihan Hyang Sukma, ingkang sampun dadi keramating  Hyang Widhi, Mijil saking asmara.</h3>
<h2 style="text-align:center;"><strong><strong>KASMARAN  BRANTA<br />
PUPUH II<br />
ASMARADANA</strong></strong></h2>
<h3>1. Kapincut ingkang anulis, denira  mirsa carita, duk kina iku wartane, Jeng Suhunan Kalijaga, rikala mrih  wekasan, anggeguru kang wus luhur, anepi dhukuh ing Benang.</h3>
<h3>2. Puruhita wus alami, tan antuk faedah  kang nyata, mung nglakoni papa wae, pan agung kinen atapa, dateng Jeng  Sunan Benang, kinen tengga gurda sampun, tan kenginganke kesaha.</h3>
<h3>3. Wonten satengah wanadri, gennya  ingkang gurda-gurda, pan sawarsa ing lamine, anulya kinen ngaluwat,  pinendhem mandyeng wana, setahun nulya dinudhuk, dateng Jeng Sunan  Benang.</h3>
<h3>4. Anulya kinen angalih, pitekur ing  kali jaga, malih karan jejuluke, sawarsa tan kena nendra, utawi yen  dahara, tinilar mring Mekah sampun, dhumateng Sinuhun Benang.</h3>
<h3>5. Nyata wus jangkep sawarsi, Syeh  Malaya tinilikan, pinanggih pitekur bae, Jeng Sunan Benang ngandika, Eh  Jebeng luwarana, jenenge wali sireku, panutup panatagama.</h3>
<h3>6. Den becik gama nireki, agama pan  tata krama, krama –kramate Hyang Manon, yen sira panata syarak, sareh  iman hidayat, hidayat iku Hyang Agung, agung ing ngrahanira.</h3>
<h3>7. Kanugrahane Hyang Widhi, ambawani  kasubdibyan, pangawasane pan dene, kadigdayan kaprawiran, sakabeh rehing  yuda, tan liya nugraha luhur, utamane kahutaman.</h3>
<h3>8. Utama nireki bayi, dene kang sediya  murba, kang amurba ing deweke, Misesani aneng sarira, nanging tan darba  purba, sira kang murba Hyang Agung, den mantep ing panarima.</h3>
<h3>9. Syeh Malaya matur aris, kalangkung  nuwun patik bra, kalingga murda wiyose, nanging amba matur Tuan, anuwun  babar pisan, ing jatine sukma luhur, kang aran iman hidayat.</h3>
<h3>10. Kang manteb narima Gusti, kang  pundi ingkang nyatanya, kulanuwun sameloke, yen ngemungna basa swara,  amba anut kumandhang, yen pralena anglir kukus, tanpa karya olah sarak.</h3>
<h3>11. Jeng Sunan lingira aris, Syeh  Malaya bener sira, sing atapa panggih ingong, ingkang aran panarima,  kang eling maring karya, duk lagi kamulanipun, apan nora kadya mega.</h3>
<h3>12. Pan kadya hidayat wening sarupa  iman hidayat, apa katon sabenere, nanging iku wruhanira, datan kena  dinuga, atawa yen sira bantu, kalawan netra kepala.</h3>
<h3>13. Ulun iki lir sireki, kapingin uga  weruha, mring hidayat sameloke, nanging ingsun durung wikan, meloke kang  hidayat, mung werta kang sun pituhu, jer iku andikaning Hyang.</h3>
<h3>14. Umatur Jeng Sunan Kali, pukulun  nuwun jinatenan, punapa wonten wiyose, ingkang aran tanpa sifat, kang  sifat tanpa aran, kawula nuwun pituduh, angen-angen ingkang wekasan.</h3>
<h3>15. Sunan Benang ngandika ris, yen sira  amrih wekasan, matenana ing ragane, sinauwa pejah sira, mumpung ta  meksih gesang, anyepiya mring wanagung, aja nganti kamanungsan.</h3>
<h3>16. Wus telas dennya pawarti, jeng  Sunan Benang wus jengkar, saking ing kalijagane, ngalor ngetan ing  lampahnya, antawis sahonjotan, Syeh Malaya atut pungkur, lumebeng ing  wana wasa.</h3>
<h3>17. Pan angidang lampah neki, awor lan  kidang manjangan, atenapi yen asare, pan aturu tumut nangsang, kadi  turuning kidang, yen asaba mapan tumut, lir kadya sutaning kidang.</h3>
<h3>18. Yen ana jalma udani, kang kidang  lumayu gebras, Jeng Sunan ameli gebras, pan lumayu berangkangan, kadi  playuning kidang, wayang-wuyung datan kantun, anut ing solahe kidang.</h3>
<h3>19. Nyata wus jangkep sawarsi, Syeh  Malaya dennya ngidang, malah langkung ing janjine, nyata Jeng Sinuhun  Benang, arsa shalat mring Mekah, sekedhep netra pan sampun, bakdane  shalat glis prapta.</h3>
<h3>20. Jeng Sunan kendel wanadri, mulat  mring kidang lumajar, dene sutane ngiyar-ngiyor, Sunan Benang emut ing  tyas, yen wonten Wali ngidang, Syeh malaya wastanipun, aglis sira  pinaranan.</h3>
<h3>21. Syeh Melaya apan gendring, pelayune  nunjang palang, datan etung jurang pereng, binujung nora kecandhak,  jinaring lan den kala, yen kena kala marucut, yen nunjang jaring pan  liwat.</h3>
<h3>22. Bramantya Sang Maha Yekti, sasumbar  sajroning nala, Wali waddat mbuh gawene, mejanani sira kidang, nguni  sun nyekel barat, kang luwih lembut tan mrucut, kang agal teka agagal.</h3>
<h3>23. Yen luputa pisan iki, luhung aja  dadi jalma, tan patut mung dadi sato, kurda muntap Sunan Benang, pan  sarwi nyipta sega, tigang kepel mapan sampun, mundur kinarya bebalang.</h3>
<h2 style="text-align:center;"><strong>PUPUH  III<br />
D U R M A</strong></h2>
<h3>1. Sigra mara Kanjeng Sunan anerajang,  ing wana langkung sungil, nyata wus kapanggya, kang lagi laku ngidang,  lumayu binalang aglis, sega kepelan, tiba ing gigir neki.</h3>
<h3>2. Syeh Melaya pan aririh pelayunya,  anulya piningkalih, kena lambungira, deperok Syeh Malaya, anulya  binalang malih, sega kepelan, emut nulya ngabekti.</h3>
<h3>3. Pan anderu sumungkem angras pada,  ngandika sang ayogi, “jebeng wruhanira, yen sira nyuwun wikan, kang  sifat hidayatullah, mungga kajiya, mring Mekah marga suci.</h3>
<h3>4. Anbambila toya zam-zam mring Mekah,  iya banyu kang suci, sarta ngalap barkah, Kanjeng Nabi panutan, Syeh  Malaya angabekti, angaras pada, pamit sigra lumaris.</h3>
<h3>5. Sang Pandita wus lajeng hing  lampahira, mring Benang dhepok sepi, nyata kawuwusa, lampahe Syeh  Malaya, kang arsa amunggah kaji, dhateng hing Mekah, lampahnya murang  margi.</h3>
<h3>6. Nrajang wana munggah gunung mudhun  jurang, iring-iring pan mlipir, jurang sengkan nrajang, wauta lampahira,  prapteng pinggir pasisir, puter driya, pakewuh marga neki.</h3>
<h3>7. Ning pangkalan samodra langkung  adohnya, angelangut kaeksi, dyan jetung kewala, aneng pinggir samodra,  wonten ingkang winarni, sang Pajuningrat, praptane sang Kaswasih.</h3>
<h3>8. Apan tuhu uninga ing lampahira, Syeh  Malaya prihatin, arsa wruh hidayat, apan terah tinerah, sukma sinukma  piningit, tangeh manggiya yen tan nugraha yekti.</h3>
<h3>9. Nyata majeng nggebyur malebeng  samodra, tan toleh jiwa diri, wau Syeh Malaya, manengah lampahira, anut  parmaning Hyang Widhi, ing sanalika, prapteng teleng jaladri.</h3>
<h3>10. Ya ta malih Jeng Sunan ing  Kalijaga, neng telenging jeladri, sampun pinggihan, pan kadya wong  leledhang, peparabe Nabi Khidir, pan tanpa sangkan, ngandika tetanyaris.</h3>
<h3>11. Syeh Malaya apa ta sedyanira,  prapteng enggone iki, apa sedya nira dene sepi kewala, tan ana kang  sarwo bukti, myang sarwo boga, miwah busana sepi.</h3>
<h3>12. Amung godhong aking yen ana  kaleyang, tiba ingarsa mami, iku kang sun pangan, yen ora-ora nana,  garjita tyas sira myarsi, Kanjeng Susunan, ngungun duk amiyarsi.</h3>
<h3>13. nabi ningrat ngandika mring kang  prapta, putu ing kene iki, akeh panca baya, yen nora etoh jiwa, mangsa  tumekaha ugi, ing kene mapan, sekalir padha merih.</h3>
<h3>14. Ngegungaken ciptanira maksih  kurang, nora ageman pati, sabda kaluhuran, dene mangsa anaha, keweran  tyas Sang Kaswasih, ing sahurira dene tan wruh ing gati.</h3>
<h3>15. dadya alon atur ira Syeh Melaya,  mangsa borong Sang Yogi, Sang Wiku lingira, apan ta sira uga, kasmaran  hidayat ullih, wekasan ningrat, meloke ing saiki.</h3>
<h3>16. Anglakoni pituduhe guru nira, Sunan  Benang Sang Yogi, tuduh marang sira, kinen ning negri Mekah, pan arsa  myang munggah kaji, mulane nyawa, angel pratingkah urip.</h3>
<h3>17. Aja lunga yen tan wruh kang  pinaranan, lan aja mangan ugi, yen tan wruh rasanya, rasane kang  pinangan, aja nganggo-anggo ugi, yen durung wruha arane busana di.</h3>
<h3>18. Witing weruh atakono pada jalma,  lawan tetiron nenggih, dadi lan tumandhang, mengkono ing agesang, ana  jugul nganggo-anggo ugi, yen durung wruha arane busana di.</h3>
<h3>19. Lamun kuning den anggep kencana  mulya, mangkono ing ngabekti, pernahe kang sinembah, Syek Melaya duk  miyarsi, ndeku norraga, dene Sang Wiku sidik.</h3>
<h3>20. Sarwi sandika ing atur ira, Syeh  Melaya minta sih, anuwun jinatenan, sinten ta aran tuan, dene mriki  peribadi, Sang Pujuningrat, Hya ingsun Nabi Kihidzir.</h3>
<h3>21. Atur sembah pukulun nuwun  jinatenan,pun patik nuwun asih, ulun inggih datan, wruh puruhiteng  badan, sasat satoning wanadri, tan mantra-mantra, waspadeng badan suci.</h3>
<h3>22. Lang lung mudha punggung cinacad  ing jagad, keksi-keksi ning bumi, engganing curiga, ulun tanpa warangka,  wecana kang tanpa siring, nyata ngandika, manis sang Nabi Khidir.</h3>
<h2 style="text-align:center;"><strong><strong>“SANG  NABI KHIDIR”<br />
PUPUH IV<br />
DHANDHANGGULA</strong></strong></h2>
<h3>1. Lamun sira munggah kaji, maring  Mekah thuke ana apa, hya Mekah pan tilas bae, Nabi Ibrahim kruhun,  ingkang yasa kang ponang mesjid, miwah tilase ka’bah, kang arupa watu,  gumantung tanpa centhrlan, apa iku kang sedya sira bekteni, dadi mangan  brahala.</h3>
<h3>2. Iya kaya idhepe wong kapir, dene iya  esmu ngangka-angka, trus madhep mring brahalane, nadyan wus haji iku,  yen tan weruh paraning kaji, ka’bah pan dudu lemah, kayu watu dudu,  margone tan kanggo lunga, mring ka’bah yen arsa wruh ing ka’bah jati,  jati iman hidayat.</h3>
<h3>3. Lahgita mara Syeh Melaya aglis,  amanjinga guwa garbaning wang, Syeh Melaya kaget tyase, Dadya metu  gumuyu, Pan angguguk turira aris, saking pundi marganya, kawula geng  luhur, antawis mangsa sedhenga, saking pundhi marganing gen kula  manjing, dening buntet kewala.</h3>
<h3>4. Nabi Khidir angandika ris, gedhe  endhi sira lawan jagad, kabeh iki sak isine, alas samudra gunung, nora  sesak ing garba mami, tan sesak lumebewa, ing jro garba ningsun, Syeh  Melaya duk miarsa, langkung ajrih kumel sandika tur neki, ningleng  ma’bitingrat.</h3>
<h3>5. Iki dalan talingan iki, Syeh Melaya  manjing sigra-sigra, wus prapta jero garbane, andalu samudra gung, tanpa  tepi nglangut lumaris, liyep adoh katingal, Nabi Khidir nguwuh, eh apa  katon ing sira, dyan umatur Syeh Melaya inggih tebih, tan wonten kang  katingal.</h3>
<h3>6. Awang uwung kang kula lampahi,  uwung-uwung tebih tan katingal, ulun saparan parane, tan mulat ing lor  kidul, kulon wetan datan udani, ngandhap ing luhur ngarsa, kalawan ing  pungkur, kawula mboten uninga, langkung bingung Nabi Khidir ngandikaris,  aja maras tyasira.</h3>
<h3>7. Byar katingal madhep Nabi Khidir,  Syeh Melaya Jeng nabi kawang-wang, umancur katon cahyane, nalika wruh   lor kidul, wetan kilen sampun kaheksi, nginggil miwah ing ngandhap, pan  sampun kadulu, lawan andulu baskara, eca tyase dene Jeng Nabi kaheksi,  aning jagat walikan.</h3>
<h3>8. Kanjeng Nabi Khidir ngandika ris,  aja lumaku andeduluwa, apa katon ing dheweke Syeh Melaya umatur, wonten  werni kawan perkawis, katingal ing kawula, sedaya puniku, sampun datan  katingalan, anamung sekawan perkawis kaheksi, ireng bang kuning pethak.</h3>
<h3>9. Angandika Kanjeng Nabi Khidir,  ingkang dihin sira anon cahya, gumawang tan wruh arane, panca maya  puniku, sejatine teyas sayekti, pangarepe sarira, Pancasonya iku,  ingaranan muka sipat,  ingkang nuntun maring sifat kang linuwih, yeku  asline sipat.</h3>
<h3>10. Maka tinuta aja lumaris, awatana  rupa aja samar, kuwasane tyas empane, ngingaling tyas puniku anengeri  maring sejati, eca tyas Syeh Melaya, duk miyarsa wuwus, lagiya medhep  tyas sumringah, dene ingkang kuning abang ireng putih, yeku durga manik  tyas.</h3>
<h3>11. Pan isining jagad amepeki, iya iku  kang telung prakara, pamurunge laku kabeh, kang bisa pisah iku yekti  bisa amoring ghaib, iku mungsuhe tapa, ati kang tetelu, ireng abang  kuning samya, angadhangi cipta karsa kang lestari, pamore Sukma Mulya.</h3>
<h3>12. Lamun ora kawileting katri, sida  nama sirnane sarira, lestari ing panunggale, poma den awas emut, dergama  kang munggeng ing ngati, pangawasane weruha, wiji wijenipun, kang ireng  luwih prakosa, panggawene serengen sebarang runtik, dursila  angambra-ambra.</h3>
<h3>13. Iya iku ati kang ngedhangi,  ambuntoni marang kabecikan, kang ireng iku karyane, dene kang abang iku,  iya tudhuh nepsu tan becik, sakabehe pepinginan, metu saking iku, panas  baran papinginan, ambuntoni maring ati ingkang ening, maring ing  kawekasan.</h3>
<h3>14. Dene iya ingkang rupa kuning,  kuwasane neng gulang sebarang, cipta kang becik dadine, panggawe amrih  hayu, ati kuning ingkang ngadhangi, mung panggawe pan rusak, linantur  jinurung, mung kang putih iku nyata, ati enteng mung suci tan ika iki,  prawira ing karaharjan.</h3>
<h3>15. Amung iku kang bisa nampani, mring  syahide sejatine rupa, nampani nugrahan nggone, ingkang bisa tumanduk,  kang lestari pamore kapti, iku mungsuhe tiga, tur sereng gung ngagung,  balane ingkang tetiga, iku putih tanpa rewang mung sawiji, mila ngagung  kasoran.</h3>
<h3>16. Lamun bisa iya nyembadani, mring  sasuker kang telung prekara, sida ing kana pamore, tanpa tuduhan iku,  ing pamore kawula Gusti, Syeh Melaya miharsa, sengkut pamrihipun,  sangsaya birahi nira, iya maring kawuwusing ingahurip, sampurnaning  panunggal.</h3>
<h3>17. Sirna patang prakara na malih, urip  siji wewolu warnanya, Syeh Melaya lon ature, punapa wastanipun, urip  siji wewolu warni, pundi ingkang sanyata, urup kang satuhu, wonten kadi  retna muncar, wonten kadi maya-maya ngebati, wonten abra markata.</h3>
<h3>18. Marbudengrat Nabi Khidir angling,  iya iku sejatine tunggal, sarira marta tegese, iya aneng sireku, tuwin  iya isining bumi, ginambar angga nira, lawan jagad agung, jagad cilik  tan prabeda, purwane ngalor kulon kidul puniki, wetan ing luhur  ngandhap.</h3>
<h3>19. Miwah ireng abang kuning putih, iya  iku panguripaning bawana, jagad cilik jagad gedhe, pan padha isenipun,  tinimbang keneng sira iki, yen ilang warna ingkang, jagad kabeh suwung,  sesukere datan ana, kinumpulken marang rupa kang sawiji, tan kakung tan  wanodya.</h3>
<h3>20. Kadi ta wangunana puniki, kang  asawang peputeran danta, tak pyo dulunen kiye, Syeh Melaya andulu, kang  kadya peputeran gadhing, cahya mancur gumilang, neneja ngenguwung,  punapa inggih puniku, rupaning dzat kang pinerih pun ulati kang  sejatining rupa.</h3>
<h3>21. Nabi Khidir angandika aris, iku  dudu ingkang sira sedya, kang mumpuni ambeg kabeh, tan kena sira dulu,  tanpa rupa datan pawarni, tan gatra tan satmata, iya tanpa dunung, mung  dumunung mring kang awas, mung sasmita aneng jagad angebaki, dinumuk  datan kena.</h3>
<h3>22. Dene iku kang sira tingali, kang  sawang peputeran denta ingkang, gumilang gilang cahyane, angkara kang  murub, Sang Permana arane iki, uripe kang sarira, permana puniku,  tunggal ana ing sarira, nanging datan melu suka lan prihatin, panggone  aneng raga.</h3>
<h3>23. Datan melu suka lan prihatin, iya  nora melu lara lapa, ye iku pisaha anggone, raga kari ngalumpruk, yekti  lungkrah badanireki, ya iku kang kuwasa, nandhang rasanipun, inguripan  dening sukma, iya iku sinusih anandhang urip, ngaken rahasya ningrat.</h3>
<h3>24. Hya iku sinandhangken mring sireki,  nanging kadya simbaring kakywan, aneng hing raga enggone, uripe  permaneku, inguripan sukma linuwih, misesa ing sarira, permana puniku,  yen mati melu palaswan, yen lamun ilang sukmane slira urip nuli urip  sukma kang ana.</h3>
<h3>25. Sirna iku iya kang pianggih,  uriping sukma ingkang anyata, ingkang liwatan umpamane, lir rasane  tumuwuh, permana kang amir sadhani, tuhu tunggal pinangka, jinaten  puniku, umatur Syeh Melaya, ingkang pundi wernine ingkang sayekti, Nabi  Khidir ngendika.</h3>
<h3>26. Nora kena yeku yen sira prih, ing  kahanane semat-mata, gampang angel pirantine, Syeh Melaya umatur, kula  nyuwun pamejang malih, inggih kedah uninga, babar pisanipun, pun patik  ngaturaken pejah, ambengana angen-angen ingkang pesthi, sampuna nuwas  ngantiya.</h3>
<h2 style="text-align:center;"><strong><strong>PUPUH  V<br />
KINANTHI</strong></strong></h2>
<h3>1. Nabi Khidir rum, wor perlambang esmu  neki, umpamane wong rerasan, loting kang adi pantesing, kang loting  bumbu sastnya, wor rahsa karasa suci.</h3>
<h3>2. Nurbuat kang rahsa iku, sejatine  rahsa iki, duk ana ing sifat jamal, Johar awal yen wus mijil, Johar  akhir wus dewasa, kang awal rahsa sejati.</h3>
<h3>3. Kang Johar akhir puniku, sawujud sak  pati urip, johar duk sawujud tunggal, rahsa tunggal urip tunggil,  tunggal lawan johar awal, kang johar akhir puniki.</h3>
<h3>4. Sawujud sagesang lampus, sapolahe  johar akhir, salamine anarima, kang johar batin puniki, kang pinuji kang  sinembah hya iku Allah sejati.</h3>
<h3>5. Nora nana roro iku, sira iku nuqod  ghaib, nuqod ghaib duk ing kuna, nora sarta nora mati, temene nuqod  punika, ghoib iku jeneng reki.</h3>
<h3>6. Wus tumiba neqdu iku duk mahune  urip, tinarik alip dadinya, alid iku jisim latip, sejatine ananira,  neqdu iku denarani.</h3>
<h3>7. Johar jati iya iku, jenengira iku  urip, syahadat jati urip ira, ingaranan getih urip, getih urip  ingaranan, Rasulullah rasa jati.</h3>
<h3>8. Syahadat jati getih, rasa jatining  dzat sami, Jabrail Muhammad Allah, telune kapate iki, getih urip  arannira, tingalana nyawang mati.</h3>
<h3>9. Apa ana getihipun, getih iku ilang  neki, ilange awor lan sukma, sukma ilang ya ananging, padha ana alip  ika, ingaranan ruh idhofi.</h3>
<h3>10. Jisim latif jatenipun, kang  ingaranan jisim latip, jisim angling duk ing kuna alip winastanan  angling, alip iku tanpa netra, tan angucap tan miyarsi.</h3>
<h3>11. Tanpa karsa tan andulu, iya iku  ingkang alip, alip tiba ing neqdunya, norane anane dadi, alip iku  jinabaran, pan ruh idlofi Dzatullih.</h3>
<h3>12. Wus kapeca sedaya wus, ruh idhofi  gagetining, dzat sejati alip ika, jabar lan jere puniki, aneng johar  alip ika, arane kalam birahi.</h3>
<h3>13. Birahi ananereku, aranira Allah  jati, tanana kalih tetiga, sapa wruha yen wus dadi, ingsun weruh pesti  nora, ngarani namanireki.</h3>
<h3>14. Sipat jamal ta puniku, ingkang  kinen angarani, pepakane ana ika, akon ngarani puniki, iya Allah  angandika, mring Muhammad kang kekasih.</h3>
<h3>15. Yen tanana sira iku, ingsun tanana  ngarani, mung sira ngarani ing wang, dene tunggal lan sireki iya Ingsun  iya sira, aranira aran mami.</h3>
<h3>16. Hannerehken sira iku, apa sira  terbuka ning, araningsun iya sira, kang sawujud lawan mami, deningsun  semjen lan sira, pesthine nora ngarani.</h3>
<h3>17. Aranira araningsun, apan sira iku  uwis, ing donya lawan akkherat, sira iki gegentining Muhammadar  rasulullah, nabiyullah ya ilahi.</h3>
<h3>18. Pertandhane Allah iku, aneng sira  dipun eling, jabar jere alip ika, alip iku pese reki, budi jati aranira,  ilang budi sajroning.</h3>
<h3>19. Kang micareku, angendhoraken  birahi, karo dudu karo iya, ya iku kang johar budi, iku aran budi iman,  alip tiba neqdu pesthi.</h3>
<h3>20. Sejatine alip iku, srwo nora dora  neki, kang alip iku namanya, nora nipun ana keki, alip adi aranira, kang  asih ananireki.</h3>
<h3>21. Johar awal ananipun, kang johar  kahanan jati, tinja junub lan jinabat, johar awal ganda neki, iku tiba  ing neqtunya, norane sajroning urip.</h3>
<h3>22. Urip jroning johar iku, urip mati  sajroning, iya aneng johar awal, pagene sholat sireki, ya ana ing ndalem  ndonya, purwane sholat puniki.</h3>
<h3>23. Den kawangwang maring neqdu, ghoib  aneng sira iki, pagene ya ngadeg sira, sidhakep marwasa wening, sedhakep  tunggal kahanan, tunggal sapari polah neki.</h3>
<h3>24. Pangucap nunggal sireku, wedale  rukuk tumuli, kerasa duka lan cipta, tumetes banyu kang wening, ning  urip ruh sekalirnya, rahsa iman saderahi.</h3>
<h3>25. Kang saderah ananipun, pagene sujud  neng bumi, paran dadi duk wahunya, cahya ingkang sasmitaning, ya iku  semune rupa, semurupeku sejati.</h3>
<h3>26. Kang agama dunungipun, iya ingkang  bumi langit, ingkang ananira nika, sirnaning dunya kang ati, iya iku  atenira, kang sujud aneng ing bumi.</h3>
<h3>27. Pagene linggih amangu, angawang  anguwung den panggih, jatine iku tan ana, pangeran iku sejati, yeku  kawula jatinya, dudu Allah sira iki.</h3>
<h3>28. Lan Muhammad iya dudu, patemon  rahsa sejati, ingkang rahsa dudu rahsa, ya Allah Muhammad ciri, iya  kawulane haram, lamun puasaha iki.</h3>
<h3>29. Lan haram kawulanipun, lamuna  sidqoha iki, lan kawulanipun haram, iya yen munggaha Hajji, lawan  kawulaning haram, lamuna sholata iki.</h3>
<h3>30. Surya nora wulanipun, norane dadi  cahyeki, pan hidayat imanira, tauhid panembah reki, makrifat pangawruh  kita, ya ru’yat minangka seksi.</h3>
<h3>31. Den tingali sipatipun, sipate Allah  sejati, kang asli aslining Allah, ya Allah-Allah kang urip, den af’ale  iya Allah, yeku duk jumeneng ru’yati.</h3>
<h3>32. Yen urip selawasipun, ru’yat jeneng  khoiroti, makrifat jeneng ing donya, johar awal khoiroti, iya uwis  jenengira, yeku pangasan kamil.</h3>
<h3>33. Insan kamil dzatullahu, sejatine  nuqod ghoib, iya dzat sabenerira, sipatullah dzatullahi, insan kamil  jenengengira, anane Allah puniki.</h3>
<h3>34. Dene kendhih jenengipun, nuqod  ghoib insan kamil, iya sejatine nora, yeku aran puji budi, budi iku urip  ira, lawan nyawa iku urip.</h3>
<h3>35. sarta lawan badanipun, aran badan  Muhammadi, kang antuk urip sampurna, Syeh Melaya matur aris, mila mat  keneng neraka, nuwun pawarta sejati.</h3>
<h3>36. Nabi Khidir ngandika rum, eh Melaya  lire iki, nraka jasmani kang ana, jrone neraka ya iki, kang tan weruh  Nabiyullah, ruh kang tan kena ing pati.</h3>
<h3>37. Ruh jasmani uripipun, samilan kewan  puniki, iku kang aneng neraka, kang nepsu pingile iblis, yen nepsune  dipun umbar, tan anut maring Hyang Widi.</h3>
<h3>38. Ngendelaken ngilmunipun, tan weruh  Adam Nabi, yeku yeku aran iman tahdlat, umat kalebu jasmani, kawruh  tanpa ika, kang nembah datan ningali.</h3>
<h3>39. Saya kapir tuhonipun, kang nembah  kayu watuning, tan ketang apa ukumnya, kapiring kang jahanami, yeku ruh  idhofi nama, ahyan syabitah ing nguni.</h3>
<h3>40. Ya cahya pan tegesipun, kang  gumilang ning baresih, kang tansah kinawikanan, kang ingilo kang  pinanggih, jroning pati aran Adam, idhofi sadurung neki.</h3>
<h3>41. Sirik ana wujudipun, ing panrimba  ran johar ning, kapingneme johar awal, johar awal mutyara di, sesoca  raga kumala, johar aran adi kapi.</h3>
<h3>42. Witing upama ping pitu, kang myarsa  sabdaning gusti, ruh idhofi ta wujudnya, kang aneng dzate mutliqi, ruh  sumendhe ing Dzatullah, ingaranan ruh idhofi.</h3>
<h3>43. Johar awal iya iku, kang ingaran  sholat da’im, sholat da’im tan kalawan, met toya wudhlu khadasi, sholat  batin sabenernya, mangan turu syahwat ngising.</h3>
<h3>44. Iya dadi sholatipun, af’ale dadi  pepuji, johar wau kumpul tunggal, sasuker ananing widi, anane – anane  Allah, den kendheh anane nguni.</h3>
<h3>45. Lir kelir lan wayangipun, wayang  tan ngawruhi kelir, hiya junub sunar-awedya, kang resik jisim mireki,  hiya Muhammad badan Allah, Muhammad tan ana keri.</h3>
<h3>46. Hidayat pan imanipun, gagentenira  Hyang Widi, ingaranan Rasulullah, Muhammad kang badan mukmin, ruh mukmin  apandukiya, ruh idhofi iman neki.</h3>
<h3>47. Iman maksum wastanipun, kang antuk  panutan jati, pan mangkono kawruhira, yen nora urip pireki, iku padha  lawan kewan, yen tan wruh wuwus kang riyin.</h3>
<h3>48. Mengku iku nora wurung, tan weruh  selami reki, yaiku pati kesasar, kupur kapir badan neki, dene wus wruh  ujar ika, sakeh warana ngawruhi.</h3>
<h3>49. Pangeran tan ana telu, panutan  Muhammadinil, pan sejatine wong kufar, kapire patang pedhati, ewuh tanpa  panganutan, feqir parek kufur kafir.</h3>
<h3>50. Feqir parek lawan kufur, krana nira  ingkang feqir, wuta tuli datan ana, suwarga neraka iki, feqir tan parek  pangeran, tan ana wujude iki.</h3>
<h3>51. Tan anembah pujinipun, krana nira  feqir kadi, hya ingkang feqir dzatullah, iku jatine Hyang Widi, patine  feqir manungsa, pesthine Allah pribadi.</h3>
<h3>52. Iya yen dzatullah iku, iya anane  kang feqir, ruh idhofi aran iman, ruh idhofi tunggal kang wit, iman  tauhid aranira, ya Allah ya Muhammadi.</h3>
<h3>53. Taukhid hidayat sireku, tunggal  lawan sang Hyang Widi, tunggal sira lawan Allah, uga donya uga akhir, ya  rumangsana pangeran, ya Allah ana nireki.</h3>
<h3>54. Ruh idhofi sireku, makrifat ya den  arani, uripe ingaranan Syahadat, urip tunggil jroning urip sujud rukuk  pangasonya, rukuk pamore Hyang Widi.</h3>
<h3>55. Sekarat tanana nyamur, ja melu sira  wedi, lan ja melu-melu Allah, iku aran sakaratil, ruh idhofi mati  tanana, urip mati urip.</h3>
<h3>56. Den rumangsa ana neku, uripe Allah  puniki, yeku urip kene-kana, sastra lip gurokna kaki, jabar jer pese  uninganya, ingkang weruh kafir syirik.</h3>
<h3>57. Satuhune iya iku, kang tan wruh ing  araneki, kang sholat sipat pangeran, Prabete kawula gusti, kang sholat  jatine raga, hya kang sholat iman urip.</h3>
<h3>58. Datan nyawa huripipun, lam tamsyur  iya af’aling, sholate purba wisesa, yektine kawula gusti, iku jatine  Hyang Sukma, ruh idhofi taning mukmin.</h3>
<h3>59. Sagung ruh astanipun, ya ana ing  ruh idhofi sipat jamal, kahelokane dzatullah, ruh idhofi jeneng maqam,  kang kubur Rosulullahi.</h3>
<h3>60. Sarat jisim latif iku, tesih rip  tan keneng pati, tejane kang ruh punika, tanpa jasad dhingdhing ari,  sasmitane sifat jamal, sifat jamal sasmitaning.</h3>
<h3>61. Johar awal mayit iku, sasmita sirna  ananing, ya iku kang pati padha, mangkono yen wis mati, donya urip ing  akhirat, tlung dina perkara dadi.</h3>
<h3>62. Saking bapa saking babu, Ba  pangeran tunggal katri, yeku sasmita tlung dina, kang titipan pitung  ari, mulih iku kang titipan, titipan kadi ing nguni.</h3>
<h3>63. Pan taukhid makrifatipun, titipan  sedasa katri, iku iya kang titipan, semune kang pitung ari, yen angis  metokaken toya, sing cipta netra yekurip.</h3>
<h3>64. Lir duk uninge  saking nur, king  cahya pinangka neki, iku semune karuna, dene mengku iki sami, sira mati  sun kelangan, mati sirna ngawandesi.</h3>
<h3>65. Kadi pundi semonipun, sami wrasta  ing sakehing, Allah Muhammad pan tunggal, nyatus tunggal wujud neki,  sasmita oleh ing cahya, cahyane Muhammad jati.</h3>
<h3>66. Tunggal karo yen manuwun, ruh jasad  ilang sajroning, pangayune sewu dina, nora ana ingkang keri, olihe  sampun sampurna, sampurna  kaya duk uning.</h3>
<h3>67. Syeh Melaya trang tyasipun, miyarsa  weling ngireki, ing guru Syeh Mahyuningrat, pan remen tan purun mijil,  neng jero garba tur sembah, wuwuse lir madu gendhis.</h3>
<h2 style="text-align:center;"><strong><strong>PUPUH  VI<br />
DHANHANGGULA</strong></strong></h2>
<h3>1. Yeng mekaten kula mboten mijil,  sampun eca ning ngriki kewala, mboten wonten sengsarane, tan niyat  mangan turu, mboten arip mboten angelih, mboten rasa kangelan, tan  ngeres tan linu, amung nikmat lan munfangat, Nabi Khidir lingira iku tan  keni, yen nora lan antaka.</h3>
<h3>2. Sang saya sih mring jeng Nabi  Khidir, marang kaswasih ingkang panedha, lah iya den awas bae, mring  pamurunging laku, aja ana sira karemi, den bener den waspada, ing anggep  pireku, yen wis kasikep ing sira, aja humung den anggo parah yen  anglir, yeku reh pepingitan.</h3>
<h3>3. Nora kena yen sira rasani, lan  sesama samaning manungsa, yen nora lan nugrahane, yen nana nedya padu,  angrasani rerasan iki, yen teka kalahana, ja nganti kabanjur, ja  ngadekaken sarira, aywa kraket marang wisayaning ngaurip, balik sikepan  uga.</h3>
<h3>4. Kawisayan kang marang ing pati, den  kahasta pamanthenging cipta, rupa ingkang sabenere, senengker buwaneku,  urip datan ana nguripi, datan antara mangsa, iya ananipun, pan wus ana  sarira, tuhu tunggal sejene lawan sireki, tan kena pisahenna.</h3>
<h3>5. Datan weneh sangkanira uni, tunggal  sapakertining buwana, pan tuhu pamiharsane, wus ana ing sireku,  pamirsane sukma sejati, iya tan klawan karna, ing panggulanipun, iya tan  kalawan netra, karnanira netranira kang kinardi, ana anenging sira.</h3>
<h3>6. Dhohire sukma wus na sireki,  bathinira kang ana ing sukma. Hiya mangkene teterape, kadya wreksa  tinutu, ananing kang kukusing geni, sarta kalawan wreksa, lir toya lan  alun, kadya minyak aneng pohan, raganira ing reh obah lawan mosik, iya  lawan Hyang Sukma.</h3>
<h3>7. Yen wruh pamore kawula Gusti, sarta  sukma kang sinedya ana, den wertani sira anggone, lir wayang sariraku,  saking dhalang solahe ringgit, mangka panggunge jagad, kelir badanipun,  amolah lamun pinolah, sak solahe kumedhep miharsa neki, tumindak lan  pangucap.</h3>
<h3>8. Kang wisesa amisesa sami, datan  antara pamore karsa, jer tanpa rowa rupane, wus ana ing sireku, umpamane  pahesan jati, ingkang ngilo Hyang Sukma, wayangan puniku, kang ana  sajrone kaca, iya sira jenenge manungsa jati, rupa sajrone kaca.</h3>
<h3>9. Luwih ageng kalepasan iki, lawan  jagad ageng kalepasan, kalawan luwih lembute, salembute banyu, apan  lembut kamuksan iki, liring lembut alitnya, sa aliting tengu, pan maksih  alit kamuksan liring luwih amisesa ing sakelir, lire lembut alitnya.</h3>
<h3>10. Bisa nukma ing agal alit,  kalimputan kabeh kang rumangkang, gumremet tanpa bedane, kaluwihan  satuhu, luwih iya  desra nampani, tan kena ngendelena, hing warah lan  euruk, den sanget panguswanira, badanira wasuhen nggenira ngungkin,  wruha rungsite tingkah.</h3>
<h3>11. Wuruk iku pan minangka wiji, kang  winuruk umpamane papan, poma kacang lan kedhele, yen sinebar ing watu,  yen watune datan pasiti, kudanan kapanasan, yekti nora thukul, lamun  sira wiceksana, ningalira sirnakna tingalireki, dadya tingal sukmasa.</h3>
<h3>12. Rupanira swaraning ugi, ulihna  marang kang duwe swara, jer sira angaku bae, selisih kang satuhu,  nanging aja sira duweni, pekareman kang liyan, mung marang Hyang Agung,  dadine angraga sukma, obah usikira wus dadi sawiji, nywarara anggepira.</h3>
<h3>13. Yen dadiya anggepira yekti, yen  nrasaha rara meksih was-was, kena ing rengu yektine, yen wus sawiji  sawujud, sakrenteging tyas sireki, apa ingkang cinipta ana, kang sinedya  rawuh, wus kawengku aneng sira, jagad kabeh jer sira minangka yekti,  gegenti den asagah.</h3>
<h3>14. Yen wus mudheng pratingkah puniki,  den awingit sarta sabah-sabab, sabab amor pangakone, nanging  ngibaratipun, ing sakedhap tan kena lali, dhohire sasabana, kawruh  patang dapur, padha anggepen sedaya, kalimane kang siji iku premati,  kanggo ing kana-kana.</h3>
<h3>15. Liring mati sajroning ngahurip, iya  urip sajroning pejah, urip bae selawase, kang mati nepsu iku, badan  dhohir ingkang nglakoni, katampan badan kang nyata, pamore sawujud,  pagene ngrasa matiya, Syeh Melaya den padhang sira nampani, wahyu prapta  nugraha.</h3>
<h3>16. Lir sasngka katerangan riris,  praptaning wahyu apan nirmala, sumilak ilang regede, angling malih nulya  rum, Nabi Khidir manis aririh, tan ana kang pinaran, kabeh wus  kawengku, tanana ingulatana, kaprawiran kadigjayan wus kawuri, kabeh  rehing ngayuda.</h3>
<h3>17. Telas wulangnya jeng Nabi Khidir,  Syeh Melaya ing tiyas keweran, weruh ing namane dhewe, hardaning tyas  pan wus muluk, tanpa elar anjajah batin, sawengkone jagad raya, angga  wus kawengku, mentes sak matining basa, sahinggane sekar maksih kudhup  lami, mangke mekar ambabar.</h3>
<h3>18. Wuwuh lan gandanireki, wus kena  kang pancaretna nulya, kinen medal sing hargane, pan sampun medal gupuh,  angulihi alame lami, Nabi Khidir ngandika, Melaya sireku, wis tinarima  Hyang Sukma, lulus saking gandane kasturi jati, pepanasing tyas sirna.</h3>
<h3>19. Wus leksana salekering bumi, ujar  sira wruh pitakonira liring wardaya malane, den mantep panrimeku, dipun  kadi ngangge sutradi, maya-mayaka sarira, reh kang sarwa alus, sinukma  masingemasan, Harja satya sinatya manik memanik, wruh pakenak ing  tingkah.</h3>
<h3>20. Dipun alus budenira iki, wernaning  dyah kita eki sumekar, kasturi jati namane, pratandha datan kerup, hing  pangawikan manah deng lungit, ngongkabana kabisan, kawruh nyawa kliru,  miwah iku nata nira, busanane kawilet tuliya sari, ya destar  nyampingira.</h3>
<h3>21. Mangka pangemut katon ing nguni,  mati duk aneng jro garbaning wang, cahya kawang-kawang dheweke, kang  abang kuning iku, pamurunge laku ngadhangi, ya kang putih kang tengah,  sidane pangaku, klima iku den waspada, den kahasta sanalika ajalali, den  tuhu ambekira.</h3>
<h3>22. Saking marmeng sun karya ling  aling, pambengkase sum’ah jabariyah, den esthi siyang dalune, pan kathah  nggen sun weruh, pratingkahe para maharsi, kang padha kaluputan, hing  pangeguhipun, pangucaping kawruh ira, wus abener wekansan mati adadi,  kawilet ing trap trapan.</h3>
<h3>23. Ana ingkang adadi ing peksi, amung  mulih pencokan kewala, kayu kang becik warnane, arsa aneng nagasantun,  ana tanjung ana waringin, temah ing pinggir pasar, engkuk  mangkruk-mangkruk, angungkuli wong sapasar, pindha kamukten sepele kang  pinurih, kasasar ambelasar.</h3>
<h3>24. Ana ingkang anitis paraji, sugih  brana miwah sugih garwa, ana kang nitis putrane, putra kang arsa mengku,  karesmene wong siji-siji, samiya tuk kaluwihan, ing panitisipun, yen  mengkuha jeneng ing wang, durung harsa amangga-amrih pribadi, sadyaku  ingaranan.</h3>
<h3>25. Tataning wada kang datan pesthi,  durung jumeneng jalma utama, ingkang mangkono anggepe, pangrasane anemu,  suka sugih lan wruh ing yekti, yen nuli nemu duka, kabanjur kalantur,  sak nggone nitis kewala, tanpa wekas kangelan tan nemu kasil, tan bisa  babar pisan.</h3>
<h3>26. Yen luputa anyakra bawani, apa  karemane aneng donya, ing pati marang tibane, ing kono karemipun, nora  kuat panyanggi pati, keron tan kasamaran, milah wawor sambu, abote oleh  kamulyan, nora kena toleh maring anak rabi, sajrone wruh wekasan.</h3>
<h3>27. Yen luputa pitakone bumi, luhung  sira aja dadi jalma, satogampang pretikele, sirnane tanpa tutur, yen wis  sira benering kapti, langgeng tanpa kerana, hangga buwaneku, humeneng  tan dadi sela, eningira iya nora dadi warih, werta tanpa tuduhan.</h3>
<h3>28. Ling ning pandhita anenakapi,  ingkang muksa inggih karsa nira, anjungkung kasutapane, nyana kena den  angkuh, tanpa tuduh mung tapa neki, tan mawi puruhita, suwung  nguwung-uwung, mung kaciptanira nika, durung antuk wuruk pratikele urip,  pangukuh ngaya wara.</h3>
<h3>29. Tapa nira nganti kuru aking, wus  mangkana dennya mrih wekasan, datanpa tutur sirnane, kematengan tapa  wus, dene pratikel kang ngaluwih, tapa iku minangka, reragi panemu,  ngilmu kang minangka ulam, tapa tanpa ngilmu iya nora dadi, yen ngilmu  tanpa tapa.</h3>
<h3>30. Jeplang-jeplang nora wurung dadi,  asli nora wedhar hing trapnya, kacegah agung bejane, yekti ta  dhadhanipun, apan akeh pandhita sandi, wuruke sinatengah, mring  shohabatipun, sobate landhep priyangga, kang linempit winedhar raose  nuli, ngaturaken gurunira.</h3>
<h3>31. Pamudhare mung grahita neki, nguni  uni durung mambu warah, saking tan eco raose, matur ing gurunipun,  langkung ngungun tumut nganggepi, sinasmaha kelawan, pandhita gung  agung, wus pesthi anggepe nyata, iku wahyu nugraha dhawuh pribadi, sobat  ingaken anak.</h3>
<h3>32. Sinungga sungga agung tinari,  mering guru yen wus arsa mejang, tan tebih sanding enggone, sobat  katemah ing guru, guru dadi sobating bating, lepasing panggrahita,  nanduk sarwa wahyu, yeku utama kalihnya, guru sobat kalihe sami ngudani,  satengah kang pandhita.</h3>
<h3>33. Kudu tinut sak ujare iki, dene  lumakua sinembah, nengt pucuk gunung enggone, swaranira anguwuh,  angebeki pertapaneki, yen ana wong amarak, wekase berudul, lir gong beri  kang tinembang, pan kumarampyang binuka kang tanpa isi, tuna kang  puruhita.</h3>
<h3>34. Aja kaya mengkono ngahurip, dipun  kadi wayang, kiuudang aneng enggone, blincongipun, ngibarate  panggungireki, damare ditya wulan, kelir alam suwung, ingkang nengga  cipta keboh bumi tetepe adege ringgit, sinangga maring nanggap.</h3>
<h3>35. Kang ananggap aneng dalem puri,  datan den usik olah sakersa, Hyang Premana dhedhalange, wayang  pengadekipun, ana ngalor ngidul tuwin, yeku ngulon lan wetan, sliring  solahipun, pinolahaken ing dhalang, yen lumaku linakokken kabeh iki,  linabehken hing dhalang.</h3>
<h3>36. Pangucape ngucapaken ugi, yen  kumecap ilate, anutur-nuturake, sakarsa karsanipun, kang anonton tinoleh  sami, tinonaken ing dhalang, kang ananggapiku, sajege mangsa weruha,  tanpa rupa kang ananggap neng jro puri, tanpa werna Hyang Sukma.</h3>
<h3>37. Hyang premana denira angringgit,  ngucapaken hing sarira nira, tanpa awas sesamane, wimbuh pan ora tumut,  hing sarira upamaneki, kang miyak munggeng pohan, geni munggeng kayu,  anderpi tan katedah, angelir pintaka ing kayu panggerit, landhesan sami  wreksa.</h3>
<h3>38. Panggeriting polah dening angin,  gesenging kayu kukusnya medal, datan antara genine, geni kelawan kukus,  saking kayu wijile neki, purwa eling duk kala, mula-mulanipun, kabeh iki  kang gumelar, saking ghoib manungsa tinitah luwih apan ingaken rahsa.</h3>
<h3>39. Mulya dhewe saking kang dumadi, aja  mengeng ciptanira tunggal, Tunggal sapari bawane, isine buwaneku,  nganggep siji manungsa jati, mengku sagung kahanan, hing manungsa iku,  kawisesane satunggal, panukmane salire jagad dumadi, tekad kang wus  sampurna.</h3>
<h3>40. Lahya uwis Syeh Melaya aglis,  baliya marang Pulo Jawa, pan sira uga jatine, Syeh Melaya agupuh, nembah  matur angasih asih, aran kalingga murda, amba setya tuhu, Nabi Khidir  nulya sirna, Syeh Melaya katon aneng jeladri, datan nrasa neng toya.</h3>
<h3>41. Syeh Melaya sanget pangasweki, ing  pengete guru kang sampurna, pan sanget eling elinge, hardaning tyas  amengku, isining rat kajajah batin, mantep premati basa, kaeruh tan  kaliru, sinukma mas ingemasan, lulus saking badane kasturi jati,  pepanase tyas sirna.</h3>
<h3>42. Wus mangkono Syeh Melaya mulih, wus  tan mengeng ing batin gunmawang, nora pangling sarirane, panuksmaning  sawujud, nanging dhohir sasat paningit, reh sarehing satriyan, linakon  winengku, pamurwane jagad raya, pan wus ngagem batine nora anilih, lir  sato lan rimbagan.</h3>
<h3>43. Wus tanana ngahurip, dennya tampa  ing guru wisiknya, tanana samar-samare, wisiking gurunipun, wus tamat  karegem aneng ati, nastiti kang angiman, angestokken guru, sarta lan  kecaping rahsa, pan dinadar ing nala suci awening, nyata lamun nugraha.</h3>
<h3>44. Temene ingkang guru sayekti, kang  wus sirna jasade tanana, kagiwang ana nalane, wus tumrap walinipun, dene  sanggya sukering ati, padhang dunya akherat, wus resik atemu, sukci  langgeng pan wus murah, mulya suka ing sapari polah neki, pana tanpa  kerana.</h3>
<h3>45. Pan wus  panakacipta ning wangsit,  tan asamar hing pati kacipta, wus samar ing waragane, marga ing pati  luhung, kang sinelir maring Hyang Widi, tanana rasa rumangsa, rahsa kadi  iku, sirnane tinggal punika, pan wus sirna alanggeng sukci mulyadi,  mulya kadi duk kuna.</h3>
<h3>46. Nora samar sejatine pati, kang  rumekseng pejah ing sekala, tan rumangsa hing pejahe, ingkang rusak ing  nepsu, raga sukma kerta negari, suka mulya merdika, wus tumraping kayun,  jumeneng ing purba nira, padha bersih langgeng suci wus weradin, wus  wruh sirnaning tunggal.</h3>
<h3>47. Datan samar satibane pati, kang  sampurna kang sinelir ika, tanana keksi wujude, kasampurnan puniku, pan  wus karta negara singgih, anir nakkenriku, alam pepitu wus sirna, pan  wus bersih sirnane alam puniki, tunggale ibaraha.</h3>
<h3>48. Ratuning alam pan wus kahesti,  abirawa wastane punika, alam nenem iku lire, sirna wetan puniku, lawan  kulon kidul lor iki, ing luhur lawan ngandhap, miwah kayu watu, tuwin  bumi alit ika, ngawang nguwung kumandhang ing angin warih, hya mung alam  dahana.</h3>
<h3>49. Surya candra alam puniki, tiga  likur alam panasaran, dene iku anyar kabeh, pan sami qodimipun, Syeh  Melaya pan nora pangling, yen iku penasaran, kang jati pang sampun,  ratuning alam sedaya, kang nirmakken mung alam ambiyak iki, ambiyak mrik  gundanya.</h3>
<p><em>Sumber  <a href="http://alangalangkumitir.wordpress.com/2009/09/12/suluk-ling-lung-teks-asli/">http://alangalangkumitir.wordpress.com</a></em></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/412/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=412&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/26/suluk-ling-lung-sunan-kalijaga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cyber war antar negara, hacker menyerang, benarkah??</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/19/cyber-war-antar-negara-hacker-menyerang-benarkah/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/19/cyber-war-antar-negara-hacker-menyerang-benarkah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 13:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[cracker]]></category>
		<category><![CDATA[cyber war]]></category>
		<category><![CDATA[Cybercrime]]></category>
		<category><![CDATA[hacker]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[Cyber war, hacker, cracker n lainnya selalu menarik perhatian orang bahkan negara sekalipun. Karena kadang memang bikin resah pengguna internet&#8230; Dunia teknology berkembang dengan sangat cepat kususnya perkembangan Internet. Perkembangannya sangat berpengaruh pada kehidupan manusia saat ini, hampir setiap bidang sekarang berkaitan dengan yang namanya teknologi internet. Dalam perkembangannya Kejahatan di dunia maya ini pun <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=407&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a rel="attachment wp-att-408" href="http://javasun3.wordpress.com/2010/03/19/cyber-war-antar-negara-hacker-menyerang-benarkah/internet1/"><img class="alignright size-full wp-image-408" title="internet1" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2010/03/internet1.jpg?w=510" alt=""   /></a>Cyber war, hacker, cracker n lainnya selalu menarik perhatian orang bahkan negara sekalipun. Karena kadang memang bikin resah pengguna internet&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Dunia teknology berkembang dengan sangat cepat kususnya perkembangan Internet. Perkembangannya sangat berpengaruh pada kehidupan manusia saat ini, hampir setiap bidang sekarang berkaitan dengan yang namanya teknologi internet. Dalam perkembangannya Kejahatan di dunia maya ini pun bermunculan dengan beragam cara.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan perang antar negara di dunia mayapun sepertinya telah dimuali, seperti berita terbaru ini:<span id="more-407"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Iran mengklaim telah melakukan serangan cyber pada 29 situs internet yang  berafiliasi dengan jaringan spionase Amerika Serikat. Situs-situs  internet yang diretas oleh Garda Revolusi Islam Iran tersebut berkedok  aktivitas hak asasi manusia.</p>
<p>Menurut kantor berita Fars,  19 Maret 2010, salah satu situs yang diretas sepanjang  akhir pekan lalu adalah milik sebuah kelompok yang meyebut diri mereka  Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRAI).</p>
<p>Kantor Berita Republik Islam (IRNA), kantor berita  resmi Iran, adalah pihak pertama yang memunculkan berita peretasan  tersebut sebelum Fars. Kedua kantor berita juga memberitakan bahwa 30  orang telah ditahan terkait dugaan keterkaitan mereka dengan badan  intelijen AS.</p>
<p>Namun dua kantor berita itu tidak membeberkan  bukti-bukti terkait dugaan mereka. Namun, IRNA mengklaim bahwa  situs-situs itu didukung oleh anggaran US$400 juta yang dialokasikan  Badan Intelijen Pusat AS untuk membuat Iran rusuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum bisa dipastikan  apakah kelompok tersebut benar memiliki  keterkaitan dengan badan  intelijen AS, atau apakah kalangan pers Iran  memunculkan tuduhan itu  karena sikap kritis kelompok tersebut terhadap  Presiden Mahmoud  Ahmadinejad.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum lagi situ America dan Korsel yang diserang 16 negara, Google di Cina, Malaysia vs Indonesia yang berakibat banyak situs yang di deface,  Botnet yang menginfeksi 75.000 komputer, Penipuan via internet, n masih banyak lagi&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sendiri msh bingung cara kerja para hacker (pngin belajar sih sebetulnya). Ada yang mau kasih tau&#8230;..(hehehe)</p>
<p style="text-align:justify;">Buat saya pribadi, sekarang ini internet saya gunakan untuk mencari informasi n bersosialisasi..</p>
<p style="text-align:justify;">coz saya masih lebih tertarik dengan dunia bisnis</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/407/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=407&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/19/cyber-war-antar-negara-hacker-menyerang-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2010/03/internet1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">internet1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sultan Hasanuddin &#8220;Ayam Jantan dari Benua Timur&#8221;</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/19/sultan-hasanuddin-ayam-jantan-dari-benua-timur/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/19/sultan-hasanuddin-ayam-jantan-dari-benua-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 10:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[ayam]]></category>
		<category><![CDATA[hasanudin]]></category>
		<category><![CDATA[jantan]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan]]></category>
		<category><![CDATA[sultan]]></category>
		<category><![CDATA[timur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631  adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=403&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a rel="attachment wp-att-404" href="http://javasun3.wordpress.com/2010/03/19/sultan-hasanuddin-ayam-jantan-dari-benua-timur/sultan-hasanudin/"><img class="alignright size-medium wp-image-404" title="sultan hasanudin" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2010/03/sultan-hasanudin.jpg?w=199&#038;h=300" alt="" width="199" height="300" /></a>Sultan Hasanuddin</strong> (lahir di Makassar,  Sulawesi Selatan, 12  Januari 1631  adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama <strong>I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng  Mattawang Karaeng Bonto Mangepe</strong>. Setelah memeluk agama Islam, ia  mendapat tambahan gelar <strong><em>Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana</em></strong>,  hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Karena  keberaniannya, ia dijuluki<strong> <em>De Haantjes van Het Oosten</em></strong> oleh Belanda yang artinya <strong><em>Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur</em></strong>.</p>
<p>Sultan Hasanuddin,  merupakan putera kedua dari Sultan  Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan  rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan  besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.</p>
<p><span id="more-403"></span></p>
<p>Pada tahun 1666,  di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan  kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin  naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil  di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.</p>
<p>Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya  hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada  tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan <strong>Perdamaian Bungaya</strong> di Bungaya.  Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan  Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta  bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai  tempat. Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari  luar menambah kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni berhasil  menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Benteng  Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri  dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.</p>
<p>Ia diangkat sebagai Pahlawan  Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6  November 1973.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=403&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/19/sultan-hasanuddin-ayam-jantan-dari-benua-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2010/03/sultan-hasanudin.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">sultan hasanudin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Berdirinya Kota Semarang</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/18/sejarah-berdirinya-kota-semarang/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/18/sejarah-berdirinya-kota-semarang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 06:40:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[pandan arang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=399</guid>
		<description><![CDATA[SEMARANG, sebagai kota raya dan lbu kota Jawa Tengah, memiliki sejarah yang panjang. Mulanya dari dataran lumpur,yang kemudian hari berkembang pesat menjadi lingkungan maju dan menampakkan diri sebagai kota yang penting. Sebagai kota besar, ia menyerap banyak pendatang. Mereka ini, kemudian mencari penghidupan dan menetap di Kota Semarang sampai akhir hayatnya. Lalu susul menyusul kehidupan <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=399&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a rel="attachment wp-att-400" href="http://javasun3.wordpress.com/2010/03/18/sejarah-berdirinya-kota-semarang/semarang-1770/"><img class="alignright size-medium wp-image-400" title="Semarang 1770" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2010/03/semarang-1770.jpg?w=300&#038;h=205" alt="" width="300" height="205" /></a>SEMARANG,</strong> sebagai kota raya dan lbu kota Jawa Tengah, memiliki sejarah yang panjang. Mulanya dari dataran lumpur,yang kemudian hari berkembang pesat menjadi lingkungan maju dan menampakkan diri sebagai kota yang penting. Sebagai kota besar, ia menyerap banyak pendatang. Mereka ini, kemudian mencari penghidupan dan menetap di Kota Semarang sampai akhir hayatnya. Lalu susul menyusul kehidupan generasi berikutnya.</p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;Sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu).&#8221;</em></p>
<p style="text-align:center;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sejarah berdirinya Kota Semarang</strong><em><span id="more-399"></span><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Di masa dulu, ada seorang dari kesultanan Demak bernama pangeran Made Pandan bersama putranya Raden Pandan Arang, meninggalkan Demak menuju ke daerah Barat Disuatu tempat yang kemudian bernama Pulau Tirang, membuka hutan dan mendirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II. Di bawah pimpinan Pandan Arang, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dan Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Akhirnya Pandan Arang oleh Sultan Pajang melalui konsultasi dengan Sunan Kalijaga, juga bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1547 masehi dinobatkan menjadi Bupati yang pertama. Pada tanggal itu &#8220;secara adat dan politis berdirilah kota Semarang&#8221; . Masa pemerintahan Pandan Arang II menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan yang dapat dinikmati penduduknya. Namun masa itu tidak dapat berlangsung lama karena sesuai dengan nasihat Sunan Kalijaga, Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri dari hidup keduniawian yang melimpah ruah. la meninggalkan jabatannya, meniggalkan Kota Semarang bersama keluarga menuju arah Selatan melewati Salatiga dan Boyolali, akhirnya sampai ke sebuah bukit bernama jabalekat di daerah Klaten. Didaerah ini, beliau menjadi seorang penyiar agama Islam dan menyatukan daerah Jawa Tengah bagian Selatan dan bergelar Sunan Tembayat. Beliau wafat pada tahun 1553 dan dimakamkan di puncak Gunung Jabalkat. Sesudah Bupati Pandan Arang mengundurkan diri lalu diganti oleh Raden Ketib, Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586), kemudian disusul pengganti berikutnya yaitu Mas R.Tumenggung Tambi (1657-1659), Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 &#8211; 1666), Mas Tumenggung Prawiroprojo (1966-1670), Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674), Kyai Mertonoyo, Kyai Tumenggung. Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701), Raden Maotoyudo atau Raden Summmgrat (1743-1751), Marmowijoyo atau Sumowijoyo atau Sumonegoro atau Surohadmienggolo (1751-1773), Surohadimenggolo IV (1773-?), Adipati Surohadimenggolo V atau kanjeng Terboyo (?), Raden Tumenggung Surohadiningrat (?-1841), Putro Surohadimenggolo (1841-1855), Mas Ngabehi Reksonegoro (1855-1860), RTP Suryokusurno (1860-1887), RTP Reksodirjo (1887-1891), RMTA Purbaningrat (1891-?), Raden Cokrodipuro (?-1927), RM Soebiyono (1897-1927), RM Amin Suyitno (1927-1942), RMAA Sukarman Mertohadinegoro (1942-1945), R. Soediyono Taruna Kusumo (1945-1945), hanya berlangsung satu bulan, M. Soemardjito Priyohadisubroto (tahun 1946, 1949 &#8211; 1952 yaitu masa Pemerintahan Republik Indonesia) pada waktu Pemerintahan RIS yaitu pemerintahann federal diangkat Bupati RM.Condronegoro hingga tahun 1949. Sesudah pengakuan kedaulatan dari Belanda, jabatan Bupati diserah terimakan kepada M. Sumardjito. Penggantinya adalah R. Oetoyo Koesoemo (1952-1956). Kedudukannya sebagai Bupati Semarang bukan lagi mengurusi kota melainkan mengurusi kawasan luar kota Semarang. Hal ini terjadi sebagai akibat perkembangnya Semarang sebagai Kota Praja.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang. Pada masa Jepang terbentuklah pemerintah daerah Semarang yang di kepalai Militer (Shico) dari Jepang. Didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico) yang masing-masing dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, pemerintahan daerah Kota Semarang belum dapat menjalankan tugasnya karena pendudukan Belanda. Tahun 1946 lnggris atas nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda.Ini terjadi pada tangga l6 Mei 1946. Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menaiigkap Mr. Imam Sudjahri, walikota Semarang sebelum proklamasi kemerdekaan. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan pemuda-pemuda Semarang yang bertempur melawan balatentara Jepang yang bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada Pasukan Republik. Perjuangan ini dikenal dengan nama Pertempuran Lima Hari. Selama masa pendudukan Belanda tidak ada pemerintahan daerah kota Semarang. Narnun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian diluar kota sampai dengan bulan Desember 1948. daerah pengungsian berpindah-pindah mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang oleh R Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti dimasa kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak berhasil, karena dalam masa pemulihan kedaulatan harus menyerahkan kepada Komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950. tanggal I April 1950 Mayor Suhardi, Komandan KMKB. menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementrian Dalam Negeri di Yogyakarta. Beliau menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya pemerintahan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/399/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=399&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/18/sejarah-berdirinya-kota-semarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2010/03/semarang-1770.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Semarang 1770</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Serat Wulang Reh – Sri Pakubuwana IV</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/15/serat-wulang-reh-%e2%80%93-sri-pakubuwana-iv/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/15/serat-wulang-reh-%e2%80%93-sri-pakubuwana-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 17:32:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[falsafah]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[serat]]></category>
		<category><![CDATA[sri pakubuwana IV]]></category>
		<category><![CDATA[tembang]]></category>
		<category><![CDATA[wulangreh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[I. Dhandhanggula 1 Pamedhare wasitaning ati, cumanthaka aniru pujangga, dhat mudha ing batine, nanging kedah ginunggung, datan wruh yen akeh ngesemi, ameksa angrumpaka, basa kang kalantur, tutur kang katula-tula, tinalaten rinuruh kalawan, ririh, mrih padhanging sasmita. 2 Sasmitaning ngaurip puniki, mapan ewuh yen ora weruha, tan jumeneng ing uripe, akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=393&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I. Dhandhanggula</strong><br />
1 Pamedhare wasitaning ati, cumanthaka aniru pujangga, dhat mudha ing batine, nanging kedah ginunggung, datan wruh yen akeh ngesemi, ameksa angrumpaka, basa kang kalantur, tutur kang katula-tula, tinalaten rinuruh kalawan, ririh, mrih padhanging sasmita.<br />
2 Sasmitaning ngaurip puniki, mapan ewuh yen ora weruha, tan jumeneng ing uripe, akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu, rasaning rasa punika, upayanen darapon sampurna ugi, ing kauripanira.<br />
3 Jroning Kuran nggoning rasa yekti, nanging ta pilih ingkang uninga, kajaba lawan tuduhe, nora kena denawur, ing satemah nora pinanggih, mundhak katalanjukan, temah sasar susur, yen sira ayun waskitha, sampurnane ing badanira puniki, sira anggugurua.<br />
4 Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana, sartana kawruhana.<br />
5 Lamun ana wong micareng ngelmi, tan mupakat ing patang prakara, aja sira age-age, anganggep nyatanipun, saringana dipun baresih, limbangen lan kang patang prakara rumuhun, dalil kadis lan ijemak, lan kiyase papat iku salah siji, anaa kang mupakat.<br />
6 Ana uga kena denantepi, yen ucul saka patang prakara, nora enak legetane, tan wurung tinggal wektu, panganggepe wus angengkoki, aja kudu sembahyang, wus salat katengsun, banjure mbuwang sarengat, batal karam nora nganggo denrawati, bubrah sakehing tata.<br />
7 Angel temen ing jaman samangkin, ingkang pantes kena ginuronan, akeh wong jaja ngelmune, lan arang ingkang manut, yen wong ngelmu ingkang netepi, ing panggawening sarak denarani luput, nanging ta asesenengan, nora kena den wor kakarepaneki, papancene priyangga.<br />
8 Ingkang lumrah ing mangsa puniki, mapan guru ingkang golek sabat, tuhu kuwalik karepe, kang wus lumrah karuhun, jaman kuna mapan si murid, ingkang padha ngupaya, kudu angguguru, ing mengko iki ta nora, kyai guru naruthuk ngupaya murid, dadya kanthinira.<span id="more-393"></span><br />
<strong>II. Kinanthi</strong><br />
1 Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrip lantip, aja pije mangan nendra, ing kaprawiran den kesthi, penunen sarinira sudanen dhahar lan guling.<br />
2 Dadia lakunireku, cegah dhahar lawan guling, lan aja sukan-sukan, anganggoa sawatawis, ala watake wong suka, nyuda prayitnaning batin.<br />
3 Yen wis tinitah wong agung, aja sira nggunggung dhiri, aja leket lan wong ala, kang ala lakunireki, nora wurung ngajak-ajak, satemah anunulari.<br />
4 Nadyan asor wijilipun, yen kalakuane becik, utawa sugih carita, carita kang dadi misil, iku pantes raketana, darapin mundhak kang budi.<br />
5 Yen wong anom pan wis tamtu, manut marang kang ngadhepi, yen kang ngadhep akeh bangsat, datan wurung bisa juti, yen kang ngadhep keh durjana, nora wurung bisa maling.<br />
6 Sanajan ta nora milu, pasthi wruh solahing maling, kaya mangkono sabarang, panggawe ala puniki, sok weruha nuli bisa, yeku panuntuning eblis.<br />
7 Panggawe becik puniku, gampang yen wus denlakoni, angel yen durung kalakyan, arasaarasen nglakoni, tur iku denlakonana, mupangati badaneki.<br />
8 Lan wong anom-anom iku, kang kanggo ing mangsa iki, andhap-asor dipunsimpar, umbag gumunggung ing dhiri, obral umuk kang dengulang, kumenthus lawan kumaki.<br />
9 Sapa sira sapa ingsun, angalunyat sarta edir, iku lalabete uga, nonoman adoh wong becik, emoh angrungu carita, carita ala lan becik.<br />
10 Carita pan wus kalaku, panggawe ala lan becik, tindak bener lan kang ora, kalebu jro cariteki, mulane aran carita, kabeh-kabeh denkawruhi.<br />
11 Mulane wong anom iku, becik ingkang ataberi, jajagongan lan wong wong tuwa, ingkang sugih kojah ugi, kojah iku warna-warna, ana ala ana becik.<br />
12 Ingkang becik kojahipun, sira anggoa kang pasthi, ingkang ala singgahana, aja sira anglakoni, lan den awas wong akojah, iya ing mangsa puniki.<br />
13 Akeh wong kang sugih wuwus, nanging densampar pakolih, amung badane priyangga, kang denpakolihken ugi, panastene kang denumbar, tan na nganggo sawatawis.<br />
14 Aja na wong bisa tutur, ngemungna ingsun pribadi, aja na kang amamadha, angrasa pinter pribadi, iku setan nunjang-nunjang, tan pantes dipunpareki.<br />
15 Sikokna den kaya asu, yen wong kang mangkono ugi, dahwen open nora layak, yen sira sandhingan linggih, nora wurung katularan, becik singkarana ugi.<br />
16 Poma-poma wekasingsun, mring kang maca layang iki, lahir batin den estokna, saunine layang iki, lan den bekti mring wong tuwa, ing lahir prapta ing batin.<br />
<strong>III. Gambuh</strong><br />
1 Sekar gambuh ping catur, kang cinatur polah kang kalantur, tanpa tutur katula-tula katali, kadaluwarsa katutuh, kapatuh pan dadi awon.<br />
2 Aja nganti kabanjur, sabarang polah kang nora jujur, yen kabanjur sayekti kojur tan becik, becik ngupayaa iku, pitutur ingkang sayektos.<br />
3 Pitutur bener iku, sayektine apantes tiniru, nadyan metu saking wong sudra papeki, lamun becik nggone muruk, iku pantes sira anggo.<br />
4 Ana pocapanipun, adiguna adigang adigung, pan adigang kidang adigung pan esthi, adiguna ula iku, telu pisan mati sampyoh.<br />
5 Si kidang umbagipun angandelken kebat lumampatipun pan gajah ngandelaken geng ainggil, ula ngandelaken iku, mandine kalamun nyakot.<br />
6 Iku upamanipun, aja ngandelkaken sira iku, suteng nata iya sapa ingkang wani, iku ambege wong digung, ing wusana dadi asor.<br />
7 Adiguna puniku, ngandelaken kapinteranipun, samubarang kabisan dipundheweki, sapa pinter kaya ingsun, tuging prana nora injoh.<br />
8 Ambeg adigang iku, ngandelaken ing kasuranipun, para tantang candhala anyanayampahi, tinemenan nora pecus, satemah dadi guguyon.<br />
9 Ing wong urip puniku, aja nganggo ambeg kang tetelu, anganggoa rereh ririh ngati-ati, den kawangwang barang laku, den waskitha solahing wong.<br />
10 Dene katelu iku, si kidang suka ing patinipun, pan si gajah alena patinereki, si ula ing patinipun, ngandelken upase mandos.<br />
11 Katelu nora patut, yen tiniru mapan dadi luput, titikane wong anom kurang wawadi, bungah akeh wong anggunggung, wekasane kajalomprong.<br />
12 Yen wong anom puniku, kakehan panggunggung dadi kumprung, pengung bingung wekasane pan angoling, yen dengunggung muncu-muncu, kaya wudun meh mecothot.<br />
13 Ing wong kang padha nggunggung, pan sepele iku pamrihipun, mung warege wadhuk kalimising lathi, lan telesing gondhangipun, ruruba alaning uwong.<br />
14 Amrih pareka iku, yen wus kanggep nuli gawe umuk, pan wong akeh sayektine padha wedi, tan wurung tanpa pisungsung, adol sanggup sakehing wong.<br />
15 Yen wong mangkono iku, nora pantes cedhak mring wong agung, nora wurung anuntun panggawe juti, nanging ana pantesipun, wong mangkono didhedheplok.<br />
16 Aja kakehan sanggup, durung weruh tuture angupruk, tutur nempil panganggepe wruh pribadi, pangrasane keh wong nggunggung, kang wis weruh amalengos.<br />
17 Aja nganggo sireku, kalakuan kang mangkono iku, datan wurung tinitenan dencireni, mring pawong sanak sadulur, nora nana kang pitados.<br />
<strong>IV. Pangkur</strong><br />
1 Kang sekar pangkur winarna, lalabuhan kang kanggo wong aurip, ala lan becik puniku,<br />
prayoga kawruhana, adat waton puniku dipunkadulu, miwah ta ing tatakrama, denkaesthi<br />
siyang ratri.<br />
2 Duduga lawan prayoga, myang watara riringa aywa lali, iku parabot satuhu, tan kena<br />
tininggale, tangi lungguh angadeg tuwin lumaku, angucap meneng anendra, duga-duga nora<br />
keri.<br />
3 Muwah ing sabarang karya, ing prakara gedhe kalawan cilik, papat iku datan kantun, kanggo sadina-dina, lan ing wengi nagara muwah ing dhusun, kabeh kang padha ambegan, papat iku nora kari.<br />
4 Kalamun ana manungsa, anyinggahi dugi lawan prayogi, iku wateke tan patut awor lawan wong kathah, wong digsura ndaludur tan wruh ing edur, aja sira pedhak-pedhak, nora wurung niniwasi.<br />
5 Mapan wateke manungsa, pan katemu ing laku lawan linggih, solah muna-muninipun, pan dadya panengeran, kang apinter kang bodho miwah kang luhur, kang asor lan kang malarat, tanapi manungsa sugih.<br />
6 Ngulama miwah maksiyat, wong kang kendel tanapi wong kang jirih, durjana bobotoh kaum, lanang wadon pan padha, panitiking manungsa wawatekipun, apadene wong kang nyata, ing pangawruh kang wis pasthi.<br />
7 Tinitik ing solah bawa, muna-muni ing laku lawan linggih, iku panengeran agung, winawas ginrahita, pramilane ing wong kuna-kuna iku, yen amawas ing sujanma, datan amindhogaweni.<br />
8 Ginulang sadina-dina, wiwekane mindeng basa basuki, ujubriya kibiripun, sumungah tan kanggonan, mung sumendhe ing karsanira Hyang Agung, ujar sirik kang rineksa, kautaman ulah-wadi.<br />
9 Ing mangsa mengko pan arang, kang katemu ing basa kang basuki, ingkang lumrah wong puniku, drengki drohi lan dora, iren meren panasten dahwen kumingsun, doene nora pasaja, jahil muthakil mbesiwit.<br />
10 Alaning liyan denandhar, ing beciking liyan dipunsimpeni, becike dhewe ginunggung, kinarya pasamuwan, nora ngrasa alane dhewe ngendhukur, wong kang mangkono wateknya, nora pantes denpedhaki.<br />
11 Iku wong durbala murka, nora nana mareme ing jro ati, sabarang karepanipun, nadyan wisa katekan, karepane nora marem saya mbanjur, luamah lawan amarah, iku ingkang dentutwuri.<br />
12 Ing sabarang tingkah polah, yen angucap tanapi lamun linggih, sungkan kasor ambegipun, pan lumuh kaungkulan, ing sujanma pangrasane dhewekipun, pan nora ana kang amadha, angrasa luhur pribadi.<br />
13 Aja nedya katempelan, ing wawatek kang tan pantes ing budi, watek rusuh nora urus, tunggal lawan manungsa, dipun sami karya labuhan kang patut, darapon dadi tuladha, tinuta ing wuri-wuri.<br />
14 Aja lonyo lemer genjah, angrong-pasanakan nyumur gumuling, ambuntut-arit puniku, watekan tan raharja, pan wong lonyo nora kena dipunetut, monyar-manyir tan antepan, dene lemeran puniki.<br />
15 Para-penginan tegesnya, genjah iku cecegan barang kardi, angrong-pasanak liripun, remen olah miruda, mring rabine sedulur miwah ing batur, mring sanak myang pasanakan, sok senenga denramuhi.<br />
16 Nyumur gumuling tegesnya, ambelawan datan duwe wewadi, nora kena rubung-rubung, wewadine kang wutah, mbuntut-arit punika pracekanipun, abener ing pangarepan, nanging nggarethel ing wuri.<br />
17 Sabarang kang dipunucap, nora wurung amrih oleh pribadi, iku labuhan tan patut, aja anedya telad, mring watekan nenem prakara puniku, sayogyane ngupayaa, lir mas tumimbul ing warih.<br />
<strong>V. Maskumambang</strong><br />
1 Nadyan silih bapa biyung kaki nini, sadulur myang sanak, kalamun muruk tan becik, nora pantes yen dennuta.<br />
2 Apan kaya mangkono watekan iki, sanadyan wong tuwa, yen duwe watek tan becik, miwah tindak tan prayoga.<br />
3 Aja sira niru tindak kang tan becik, nadyan ta wong liya, lamun pamuruke becik, miwah tindake prayoga.<br />
4 Iku pantes sira tirua ta kaki, miwah bapa biyang, kang muruk watek kang becik, iku kaki estokena.<br />
5 Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi, anemu duraka, ing dunya tumekeng akir, tan wurung kasurang-surang.<br />
6 Maratani ing anak putu ing wuri, den padha prayitna, aja na kang kumawani, ing bapa tanapi biyang.<br />
7 Ana uga etang-etangane kaki, lilima sinembah, dununge sawiji-wiji, sembah lilima punika.<br />
8 Ingkang dhingin rama ibu kaping kalih, marang maratuwa, lanang wadon kang kaping tri, ya marang sadulur tuwa.<br />
9 Kaping pate ya marang guru sayekti, sembah kaping lima, ya marang Gustinireki, parincine kawruhana.<br />
10 Pramilane rama ibu denbekteni, kinarya jalaran, anane badan puniki, wineruhken padhang hawa.<br />
11 Uripira pinter samubarange kardi, saking ibu rama, ing batin saking Hyang Widhi, mulane wajib sinembah.<br />
12 Pan kinarsakaken ing Hyang kang linuwih, kinarya lantaran, ana ing dunya puniki, weruh ing becik lan ala.<br />
13 Saking ibu rama margane udani, mila maratuwa, lanang wadon denbekteni, aweh rasa ingkang nyata.<br />
14 Sajatine rasa kang mencarken wiji, sembah kaping tiga, mring sadulur tuwa ugi, milane sadulur tuwa.<br />
15 Pan sinembah gegentine bapa iki, pan sirnaning bapa, sadulur tuwa gumanti, ingkang pantes sira nuta.<br />
16 Ing sawarah wuruke ingkang prayogi, sembah kang kaping pat, ya marang guru sayekti, marmane guru sinembah.<br />
17 Kang atuduh marang sampurnaning urip, tumekeng antaka, madhangken petenging ati, ambenerken marga mulya.<br />
18 Wong duraka ing guru abot pribadi, pramila prayoga, mintaa sih siyang ratri, ywa nganti suda sihira.<br />
19 Kaping lima dununge sembah puniki, mring gusti kang murba, ing pati kalawan urip, miwah sandhang lawan pangan.<br />
20 Wong neng dunya wajib manuta ing gusti, lawan dipun awas, sapratingkah dipunesthi, aja dupeh wus awirya.<br />
21 Nora beda putra santana wong cilik, yen padha ngawula, pan kabeh namaning abdi, yen dosa ukume padha.<br />
22 Yen rumangsa putra santana sireki, dadine tyasira, angediraken sireki, tan wurung anemu papa.<br />
23 Ngungasaken yen putra santaneng aji, iku kaki aja, wong suwita nora keni, kudu wruh ing karyanira.<br />
24 Yen tinuduh marang sang mahanarpati, sabarang tuduhnya, iku estokena ugi, karyanira sumngkemana.<br />
25 Aja mengeng ing parentah sang siniwi, den pethel aseba, aja malincur ing kardi, aja ngepluk asungkanan.<br />
26 Luwih ala alaning jalma ngaurip, wong ngepluk sungkanan, tan patut ngawuleng aji, angengera sapa-sapa.<br />
27 Amilua ing bapa biyung pribadi, kalamun sungkanan, datan wurung densrengeni, milawanana pinala.<br />
28 Mapan kaya mangkono ngawuleng gusti, kalamun leleda, tan wurung manggih bilai, ing wuri aja ngresula.<br />
29 Pan kinarya dhewe bilainireki, lamun tinemenan, sabarang karsaning gusti, lair batin tan suminggah.<br />
30 Mapan ratu tan duwe kadang myang siwi, sanak prasanakan, tanapi garwa kakasih, amung bener agemira.<br />
31 Kukum adil adat watong gang denesthi, mulane ta padha, denrumeksa marang gusti, endi lire wong rumeksa.<br />
32 Dipun gemi nastiti angati-ati, gemi mring kagungan, ing gusti ywa sira wani, anggagampang lawan aja.<br />
33 Wani-wani nuturken wadining Gusti, denbisa arawat, ing wawadi sang siniwi, nastiti barang parentah.<br />
34 Ngati-ati ing rina miwah ing wengi, ing rumeksanira, lan nyadhang karsaning gusti, dudukwuluhe atampa.<br />
<strong>VI. Dudukwuluh / Megatruh</strong><br />
1 Wong ngawula ing ratu luwih pakewuh, nora kena minggrang-minggring, kudu mantep<br />
sartanipun, setya tuhu marang gusti, dipunmiturut sapakon.<br />
2 Mapan ratu kinarya wakil Hyang Agung, marentahken hukum adil, pramila wajib denenut,<br />
kang sapa tan manut ugi, mring parentahe sang katong.<br />
3 Aprasasat mbadal ing karsa Hyang Agung, mulane babo wong urip, saparsa ngawuleng ratu, kudu eklas lair batin, aja nganti nemu ewuh.<br />
4 Ing wurine yen ati durung tuwajuh, angur ta aja angabdi, becik ngindhunga karuhun, aja age-age ngabdi, yen durung eklas ing batos.<br />
5 Angur angindhunga bae nora ewuh, lan nora nana kang ngiri, mung mungkul pakaryanipun, nora susah tungguk kemit, seba mapan nora nganggo.<br />
6 Mung yen ana tontonan nonton neng lurung, glindhang-glindhung tanpa keris, sarwi mbanda tanganipun, kemul bebede sasisih, andhodhok pinggiring bango.<br />
7 Suparandene jroning tyas anglir tumenggung, mangku bawat Senen Kemis, mangkono iku liripun, nora kaya wong angabdi, wruh ing palataran katong.<br />
8 Lan keringan sarta ana aranipun, lan ana lungguhe ugi, ing salungguh-lungguhipun, nanging ta dipunpakeling, mulane pinardi kang wong.<br />
9 Samubarang ing karsanira sang ratu, sayekti kudu nglakoni, sapalakartine iku, wong kang padha-padha ngabdi, pagaweane pan saos.<br />
10 Kang nyantana bupati mantri panewu, kaliwon paneket miji, panalawe lan panajung, tanapi para prajurit, lan kang nambutkaryaeng katong.<br />
11 Kabeh iku kuwajiban sebanipun, ing dina kang amarengi, ing wiyosira sang prabu, sanadyan tan miyos ugi, pasebane aja towong.<br />
12 Ingkang lumrah yen kerep seba wong iku, nuli ganjaran denincih, yen tan oleh nuli mutung, iku sewu-sewu sisip, yen wus mangarti ingkang wong.<br />
13 Tan mangkono etunge kang sampun weruh, mapan ta datan denpikir, ganjaran pan wis karuhun, amung naur sihing gusti, winales ing lair batos.<br />
14 Setya tuhu saparentahe pan manut, ywa enggana karseng gusti, wong ngawula pamanipun, lir sarah munggeng jaladri, darma lumaku sapakon.<br />
15 Dene begja cilaka utawa luhur, asor iku pan wis pasthi, ana ing badanireku, aja sok anguring-uring, marang gusti sang akatong.<br />
16 Mundhak ngakehaken ing luputireku, mring gusti tuwin Hyang Widhi, dene ta sabeneripun, mupusa kalamun pasthi, ing badan tan kena menggok.<br />
17 Tulisane ing lokil-makful rumuhun, papancer sawiji-wiji, tan kena owah sarambut, tulising badan puniki, aja na mundur pakewuh.<br />
<strong>VII. Durma</strong><br />
1 Dipunsami ambanting sariranira, cegah dhahar lan guling, darapon sudaa, nepsu kang ngambra-ambra, rerema ing tyasireki, dadi sabarang, karsanira lestari.<br />
2 Ing pangawruh lair batin aja mamang, yen sira wus udani, ing sariranira, yen ana kang amurba, misesa ing alam kabir, dadi sabarang, pakaryanira ugi.<br />
3 Bener luput ala becik lawan begja, cilaka mapan saking, ing badan priyangga, dudu saking wong liya, pramila denngati-ati, sakeh durgama, singgahana den eling.<br />
4 Mapan ana sisiku telung prakara, nanging gesae pribadi, pan iki lirira, ingkang telung prakara, aja anggunggung sireki, kalawan aja, nacad kapati-pati.<br />
5 Lawan aja mamaoni barang karya, thik-ithik mamaoni, samubarang polah, tan kena wong kumlebat, ing mangsa mengko puniki, mapan wus lumrah, padha wasis maoni.<br />
6 Mung tindake dhewe nora winaonan, ngrasa bener pribadi, sanadyan benera, yen tindake wong liya, pesthine ingaran sisip, iku kang lumrah, nganggo bener pribadi.<br />
7 Nora nana panggawe kang luwih gampang, kaya wong memaoni, sira ling-elinga, aja sugih waonan, den samya raharjeng budi, ingkang prayoga, singa-singa kang lali.<br />
8 Ingkang eling angelingena ya marang, sanak kanca kang lali, dennedya raharja, mangkana tindakira, yen datan kaduga uwis, teka menenga, aja sok angrasani.<br />
9 Nemu dosa anyela sapadha-padha, dene wong ngalem gugi, yen durung tetela, ing beciking manungsa, aja age nggunggung kaki, menek tan nyata, dadi cirinireki.<br />
10 Dene ingkang kaprah ing mangsa samangkya, yen ana densenengi, ing pangalemira, pan kongsi pandirangan, matane kongsi mandelik, nadyan alaa, ginunggung becik ugi.<br />
11 Aja ngalem aja mada lamun bisa, yen uga jaman mangkin, iya samubarang, yen ora sinenengan, denpoyok kapati-kati, nora prasaja, sabarang kang denpikir.<br />
12 Ngandhut rukun becik ngarepan kewala, ing wuri angrasani, ingkang ora-ora, kabeh kang rinasan, ala becik denrasani, tan parah-parah, wirangronge gumanti.<br />
<strong>VIII. Wirangrong</strong><br />
1 Densamya marsudeng budi, wiweka dipunwaspaos, aja dumeh dumeh bisa muwus, yen tan pantes ugi, sanadyan mung sakecap, yen tan pantes prenahira.<br />
2 Kudu golek mangsa ugi, panggonan lamun miraos, lawan aja age sira muwus, dununge denkesthi, aja age kawedal, yen durung pantes rowangnya.<br />
3 Rowang sapocapan ugi, kang pantes ngajak calathon, aja sok metua wong calathu, ana pantes ugi, rinungu mring wong kathah, ana satengah micara.<br />
4 Tan pantes akeh ngawruhi, mulane lamun miraos, dipunngarah-arah ywa kabanjur, yen sampun kawijil, tan kena tinututan, mulane dipunprayitna.<br />
5 Lan maninge wong ngaurip, aja ngakehken supaos, iku kagwe reged badanipun, nanging mangsa mangkin, tan na etung prakara, supata ginawe dinan.<br />
6 Denpadha gemi ing lathi, aja ngakehken pipisoh, cacah-cucah srengen ngabul-abul, lamun andukani, dendumeling dosanya, mring abdi kang manggih duka.<br />
7 Lawan padha denpakeling, teguhena lair batos, aja ngalap randhaning sadulur, sanak miwah abdi, kanca rewang sapangan, miwah maring pasanakan.<br />
8 Gawe salah grahitani, ing liyan kang sami anon, nadya lilaa lananganipun, kang angrungu elik, ing batin tan pitaya, mangsa kuranga wanodya.<br />
9 Tan wurung dipuncireni, ing batin ingaran rusoh, akeh jaga-jaga jroning kalbu, arang ngandel batin, ing tyase padha suda, pangendele mring bandara.<br />
10 Ana cacad agung malih anglangkungi saking awon, apan sakawan iku kenipun, dhingin wong madati, pindho wong ngabotohan, kaping tiga wong durjana.<br />
11 Kaping sekawane ugi, wong ati sudagar awon, mapan suka sugih watekipun, ing rina lan wengi, mung bathine denetang, alumuh lamun kalonga.<br />
12 Iku upamane ugi, duwe dhuwit pitung bagor, mapan nora marem ing tyasipun, ilanga sadhuwut, gegetun patang warsa, padha lan ilang saleksa.<br />
13 Wong ati sudagar ugi, sabarang prakara tamboh, amung yen ana wong teka iku, anggagawe ugi, gagadhen pan tumranggal, ulate teka sumringah.<br />
14 Dene wong durjana ugi, nora nana kang denbatos, rina wengi amung kang denetung, duweke lyan nenggih, dahat datan prayoga, kalamun watek durjana.<br />
15 Dene bobotoh puniki, sabarang pakaryon emoh, lawan kathah linyok para padu, yen pawitan enting, tan wurung anggagampang, ya marang darbeking sanak.<br />
16 Nadyan wasiyating kaki, nora wurung dipunedol, lamun menang endang gawe angkuh, pan kaya bupati, weweh tan ngarah-arah, punika awoning bangsat.<br />
17 Kabutuh pisan mamaling, tinitenan saya awon, apan boten wonten panedipun, pramilane sami, sadaya nyinggahana, anggugulang ngabotohan.<br />
18 Dene ta wong kang madati, kesede kaamoran lumoh, amung ingkang dadi senengipun, ngadhep diyan sarwi, linggih ngamben jejegang, sarwi leyangan bedudan.<br />
19 Yen leren nyeret adhidhis, netrane pan merem karo, yen wus ndadi awake akuru, cahya biru putih, njalebut wedi toya, lambe biru untu pethak.<br />
20 Beteke satron lan gambir, jambe suruh arang wawoh, ambegane sarwi melar-mingkus, watuke anggigil, jalagra aneng dhadha, tan wurung ngestob bolira.<br />
21 Yen mati nganggo ndalinding, suprandene nora kapok, iku padha singgahana patut, aja na nglakoni, wong mangan apyun ala, uripe dadi tontonan.<br />
22 Iku kabeh nora becik, aja na wani anganggo, panggawe patang prakara iku, denpadha pakeling, aja na wani nerak, kang nerak tan manggih arja.<br />
23 Lawan ana waler malih, aja sok anggung kawuron, nginum sajeng tanpa mangsa iku, endi lire ugi, angombe saben dina, pan iku wateke ala.<br />
24 Kalamun wung wuru ugi, ilang prayitnaning batos, nora ajeg barang pikiripun, elinge ing ati, pan baliyar-baliyar, endi ta ing becikira.<br />
25 Lan aja karem sireki, ing wanodya ingkang awon, lan aja mbuka wadi sireku, ngarsaning pawestri, tan wurung nuli corah, pan wis lumrahing wanita.<br />
26 Tan bisa simpen wawadi, saking rupeke ing batos, pan wus pinanci dening Hyang Agung, nitahken pawestri, apan iku kinarya, ganjaran marang wong priya.<br />
27 Kabeh den padha nastiti, marang pitutur kang yektos, aja dumeh tutur tanpa dhapur, yen bakale becik, denanggo weh munfangat, kaya pucung lan kaluwak.<br />
<strong>IX. Pucung</strong><br />
1 Kamulane, kaluwak nom-nomanipun, pan dadi satunggal, pucung arane puniki, yen wis tuwa kaluwake pisah-pisah.<br />
2 Denbudia, kapriye ing becikipun, aja nganti pisah, kumpula kaya enome, enom kumpul tuwa kumpul kang prayoga.<br />
3 Aja kaya kaluwak enome kumpul, basa wis atuwa, ting salebar dhewe-dhewe, nora wurung bakal dadi bumbu pindhang.<br />
4 Wong sadulur, nadyan sanak dipunrukun, aja nganti pisah, ing samubarang karsane, padha rukun dinulu teka prayoga.<br />
5 Abot entheng, wong duwe sanak sadulur, enthenge yen pisah, pikire tan dadi siji, abotipun lamun biyantu ing karsa.<br />
6 Luwih abot, wong duwe sanak sadulur, jitus tandhingira, yen golong sabarang pikir, kacek uga lan wong kang tan sugih sanak.<br />
7 Lamun bener, lan pinter pamomongipun, kang ginawe tuwa, aja nganggo abot sisih, dipunpadha pamengkune mring sentana.<br />
8 Mapan ewuh, wong tinitah dadi sepuh, tan kena gumampang, iya marang sadulure, tuwa enom aja beda traping karya.<br />
9 Kang saregep, kalawan ingkang malincur, padha denkawruhan, sira alema kang becik, kang malincur age sira bendonana.<br />
10 Yen tan mari, binendon nggone malincur, age tinatrapan, sapantese lan dosane, pan sentana dimene dadi tuladha.<br />
11 Lan wong liya, darapon wedia iku, kang padha ngawula, ing batine wedi asih, pan mangkono labuhan wong dadi tuwa.<br />
12 Den ajembar, denamot lan denamengku, denpindha segara, tyase ngemot ala becik, mapan ana papancene sowang-sowang.<br />
13 Pan sadulur, tuwa kang wjib pitutur, marang kang taruna, kang anom wajibe wedi, sarta manut wuruke sadulur tuwa.<br />
14 Kang tinitah, dadi enom aja mesgul, batin rumangsaa, yen wis titahing Hyang Widhi, yen mesgula ngowahi kodrating Suksma.<br />
15 Nadyan bener, yen wong anom dadi luput, yen ta anganggoa ing pikire pribadi, pramilane wong anom aja ugungan.<br />
16 Yen dadi nom, denweruh ing enomipun, dene ingkang tuwa, denkaya banyu ing beji, denawening paningale aja samar.<br />
17 Lawan maning, ana ing pituturingsun, yen sira amaca, layang sabarang layange, aja pijer katungkul ningali sastra.<br />
18 Caritane, ala becik dipunweruh, nuli rasakena, layang iku saunine, denkarasa kang becik sira anggoa.<br />
19 Ingkang ala, kawruhana alanipun, dadine tyasira weruh ala lawan becik, ingkang becik wiwitane sira wruha.<br />
20 Wong kang laku, mangkana wiwitanipun, becik wekasanya, wong laku mangkana wite, ing satemah puniku pan dadi ala.<br />
21 Ing sabarang, prakara dipunkadulu, wiwitan wekasan, bener lan lupute kesthi, ana becik wekasane dadi ala.<br />
22 Dipunweruh, iya ing kamulanipun, kalawan wekasan, punika dipunkaliling, ana ala dadi becik ing wekasan.<br />
23 Ewuh temen, babo wong urip puniku, apan nora kena, kinira-kira ing budi, arang mantep wijiling basa raharja.<br />
<strong>X. Mijil</strong><br />
1 Poma kaki padha dipuneling, ing pitutur ingong, sira uga satriya arane, kudu anteng jatmika ing budi, ruruh sarwa wasis, samubarangipun.<br />
2 Lan dennedya prawira ing batin, nanging aja katon, sasabana yen durung mangsane, kekendelan aja wani mingkis, wiweka ing batin, densamar densemu.<br />
3 Lan densami mantep maring becik, lan ta wekas ingong, aja kurang iya panrimane, yen wus tinitah maring Hyang Widhi, ing badan puniki, wus papancenipun.<br />
4 Ana wong narima wus titahing, Hyang pan dadi awon, lan ana wong tan nrima titahe, ing wekasan iku dadi becik, kawruhana ugi, aja salang surup.<br />
5 Yen wong bodho kang tan nedya ugi, tatakon titiron, anarima ing titah bodhone, iku wong narima nora becik, dene ingkang becik, wong narima iku.<br />
6 Kaya upamane wong angabdi, amagang sang katong, lawas-lawas katekan sedyane, dadi mantri utawa bupati, miwah saliyane, ing tyase panuju.<br />
7 Nuli narima terusing batin, tan mengeng ing katong, tan rumasa ing kanikmatane, sihing gusti tekeng anak rabi, wong narima becik, kang mangkono iku.<br />
8 Nanging arang ing mangsa samangkin, kang kaya mangkono, kang wis kaprah iya salawase,<br />
yen wis ana linggihe sathithik, apan nuli lali, ing wiwitanipun.<br />
9 Pangrasane duweke pribadi, sabarang kang kanggo, nora eling ing mula-mulane, witing sugih sangkaning amukti, panrimaning ati, kaya nggone nemu.<br />
10 Tan rumasa murahing Hyang Widhi, jalaran sang katong, ing jaman mengko iya mulane, arang turun wong lumakweng kardi, tyase tan saririh, kasusu ing angkuh.<br />
11 Arang kang sedya amales ing sih, ing gusti sang katong, lawan kabeh iku ing batine, tan anedya narima ing Widhi, iku wong kang tan wrin, ing nikmat ranipun.<br />
12 Wong kang tan narima dadi becik, titahing Hyang Manon, iki uga iya ta rupane, kaya wong kang angupaya ngelmi, lan wong sedya ugi, kapinteran iku.<br />
13 Uwis pinter nanging iku maksih, nggonira ngupados, ing undhake ya kapinterane, utawa unggahing kawruh yekti, durung marem batin, lamun durung tutug.<br />
14 Ing pangrawuh ingkang densenengi, kang wus sem ing batos, miwah ing kapinteran wus dene, ing samubarang pakarya uwis, nora nganggo lali, kabeh wus kawengku.<br />
15 Yen wong kang kurang narima ugi, iku luwih awon, barang-gawe aja age-age, anganggoa sabar lawan ririh, dadi barang-kardi, resik tur rahayu.<br />
16 Lan maninge babo denpakeling, ing pitutur ingong, sira uga padha ngempek-empek, iya marang kang jumeneng aji, lair ing myang batin, denngrasa kawengku.<br />
17 Kang jumeneng iku kang mbawani, wus karsaning Manon, wajib padha wedi lan bektine, aja mampang parentahing aji, nadyan anom ugi, lamun dadi ratu.<br />
18 Nora kena iya denwaoni, parentahing katong, dhasar ratu bener parentahe, kaya priye nggonira sumingkir, yen tan anglakoni, pesthi tan rahayu.<br />
19 Nanging kaprah ing mangsa puniki, anggepe angrengkoh, tan rumasa lamun ngempekempek, ing batine datan nedya eling, kamuktene iki, ngendi sangkanipun.<br />
20 Yen elinga jalarane mukti, pesthine tan ngrengkoh, saking batin durung ngrasakake, ing pitutur ingkang dhingin-dhingin, dhasar tan praduli, wuruking wong sepuh.<br />
21 Ing dadine barang tindak iki, arang ingkang tanggon, saking durung ana landhesane, nganggo ing karsanira pribadi, ngawag barang kardi, dadi tanpa dhapur.<br />
22 Mulane ta wekas ingsun iki, den kerep tatakon, aja isin ngatokaken bodhone, saking bodho witing pinter ugi, mung Nabi kakasih, pinter tan winuruk.<br />
23 Sabakdane pan tan ana ugi, pintere tatakon, mapan lumrah ing wong urip kiye, mulane wong anom den taberi, angupaya ngelmi, dadya pikukuh.<br />
24 Ing driyanira dadi tatali, ing tyas dimen adoh, sakehing ati kang ala kiye, nadyan lali ya pan nuli eling, yen wong kang wus ngelmi, kang banget tuwajuh.<br />
25 Kacek uga lan kang tanpa ngelmi, sabarange kaot, dene ngelmu iku ingkang kangge, sadinane gurokna kariyin, pan sarengat ugi, parabot kang perlu.<br />
26 Ngelmu sarengat puniku dadi, wawadhah kang yektos, kawruh tetelu kawengku kabeh, pan sarengat kanggo lair batin, mulane densami, brangtaa ing ngelmu.<br />
<strong>XI. Asmarandana</strong><br />
1 Padha netepana ugi, kabeh parentahing sarak, terusna lair batine, salat limang wektu uga, tan kena tininggala, sapa tinggal dadi gabug, yen misih dhemen neng praja.<br />
2 Wiwit ana badan iki,iya teka ing sarengat, ananing manungsa kiye, rukun Islam kang lilima, nora kena tininggal, iku parabot linuhung, mungguh wong urip neng dunya.<br />
3 Kudu uga denlakoni, rukun lilima punika, mapan ta sakuwasane, nanging aja tan linakyan, sapa tan nglakonana, tan wurung nemu bebendu, padha sira esttokena.<br />
4 Parentahira Hyang Widhi, kang dhawuh mring Nabiyullah, ing dalil kadis enggone, aja na ingkang sembrana, rasakna den karasa, dalil kadis rasanipun, dadi padhang ing tyasira.<br />
5 Nora gampang wong ngaurip, yen tan weruh uripira, uripe padha lan kebo, anur kebo dagingira, kalala yen pinangana, pan manungsa dagingipun, yen pinangan pesthi karam.<br />
6 Poma-poma wekas mami, anak putu aja lena, aja katungkul uripe, lan aja duwe kareman, marang papaes donya, siyang dalu dipun emut, yen urip manggih antaka.<br />
7 Lawan aja angkuh bengis, lengus lanas langar lancang, calak ladah sumalonong, aja edak aja ngepak, lan aja siya-siya, aja jail para padu, lan aja para wadulan.<br />
8 Kang kanggo ing mangsa mangkin, prayayi nom kang dengulang, kaya kang wus muni kuwe, lumaku temen kajena, tan nganggo etung murwat, lumaku kukudhung sarung, anjaluk<br />
dendhodhokana.<br />
9 Pan tanpa kusur sayekti, satriya tan wruh ing tata, ngunggulaken satriyane, yen na ngarah dhinodhokan, anganggoa jajaran, yen niyat lunga anyamur, aja ndhodhokken manungsa.<br />
10 Iku poma dipuneling, kaki mring pitutur ingwang, kang wis muni mburi kuwe, yen ana ingkang nganggoa, cawangan wong mbelasar, saking nora ngrungu tutur, lebar tan dadi dandanan.<br />
11 Barang-gawe dipuneling, nganggoa tepa-sarira, parentah lan sabenere, aja ambeg kumawawa, amrih denwedenana, dene ta wong kang wis luhung, nggone amengku mring bala.<br />
12 Denprih wedi sarta asih, pamengkune maring wadya, wineruhena ing gawe, denbisa aminta-minta, karyaning wadyanira, ing salungguh-lungguhipun, ana karyane priyangga.<br />
13 Sarta weruhna ing becik, gantungana ing tatrapan, darapon pethel karyane, dimene aja sembrana, anglakoni ing karya, ywa dumeh asih sireku, yen leleda tatrapana.<br />
14 Nadyan sanak-sanak ugi, yen leleda tinatrapan, murwaten lawan sisipe, darapon padha wedia, ing wuri ywa leleda, ing dana-kramanireku, aja pegat den warata.<br />
15 Lan maninge suta mami, mungguh anggeo wong nagwula, densuka sokur ing batos, aja pegat ing panedha, mring Hyang kang amisesa, ing raina wenginipun, mulyaning nagara tata.<br />
16 Iku uga denpakeling, kalamun mulya kang praja, mupangati mring wong akeh, ing rina wengi ywa pegat, nenedha mring Pangeran, tulusing karaton prabu, miwah arjaning nagara.<br />
17 Iku wawalesing batin, mungguh wong suwiteng nata, ing lair setya tuhune, lawan cecadhang sakarsa, badan datan lenggana, ing siyang dalu pan katur, pati uriping kawula.<br />
18 Gumantung karsaning gusti, iku traping wadya setya, nora kaya jaman mangke, yen wis oleh kalungguhan, trape kaya wong dagang, ngetung tuna bathineipun, ing tyas datan rumangsa.<br />
19 Uwite dadi priyayi, sapa kang gawe mring sira, nora weruh wiwitane, iya weruha witira, dadi saking ruruba, mulane ing batinipun, pangetunge lir wong dagang.<br />
20 Pikire gelisa pulih, rurubane duk ing dadya, ing rina wengi ciptane, kapriye lamun bisaa, males sihing bendara, linggihe lawan tinuku, tan wurung angrusak desa.<br />
21 Pamrihe gelisa bathi, nadyan mbesuk denpocota, duweke sok wisa puleh, kapriye lamun tataa, polahe salang-tunjang, padha kaya wong bubruwun, tan etung duga prayoga.<br />
22 Poma padha denpakeling, nganggoa sokur lan rila, narima ing sapancene, lan aja amrih sarana, mring wadya nandhang karya, lan padha amriha iku, arjaning kang desa-desa.<br />
23 Wong desa pan aja nganti, ewuh nggone nambut-karya, sasawah miwah tegale, nggaru maluku tetepa, aja denulah-ulah, dimene tulus nanandur, pari kapas miwah jarak.<br />
24 Yen desa akeh wongneki, ingkang bathi pasthi sira, wetuning pajeg undhake, dipunrereh pamrihira, aja nganti rekasa, denwani kalah rumuhun, beya kurang paringana.<br />
25 Kapriye gemaha ugi, sakehe kang desa-desa, salin bekel pendhak epon, pametune jung sacacah, bektine karobelah, satemah desane suwung, priyayi jaga pocotan.<br />
26 Poma aja anglakoni, kaya pikir kang mangkana, tan wurung lingsem temahe, denpadha angestokena, mring pitutur kang arja, nora nana alanipun, wong nglakoni kabecikan.<br />
27 Nom-noman samengko iki, yen denpituturi arja, arang kang angrungokake, denslamur asasembranan, emoh yen anirua, malah males apitutur, pangrasane uwis wignya.<br />
28 Aja ta mengkono ugi, yen ana wong cacarita, rungokena saunine, ingkang becik sira nggoa, buwangen ingkang ala, anggiten sajroning kalbu, ywa nganggo budi nom-noman.<br />
<strong>XII. Sinom</strong><br />
1 Ambege kang wus utama, tan ngendhak gunaning janmi, amiguna ing aguna, sasolahe kudu bathi, pintere denalingi, bodhone dinokok ngayun, pamrihe den inaa, aja na ngarani bangkit, suka lila denina sapadha-padha.<br />
2 Ingsun uga tan mangkana, balilu kang sun alingi, kabisan sundekek ngarsa, isin menek denarani, balilu ing sujanmi, nanging batiningsun cubluk, parandene jroning tyas, lumaku ingaran wasis, tanpa ngrasa prandene sugih carita.<br />
3 Tur duk ingsun maksih bocah, akeh kang amituturi, lakuning wong kuna-kuna, lalabetan ingkang becik, miwah carita ugi, kang kajaba saking ngebuk, iku kang aran kojah, suprandene ingsun iki, teka nora nana undhaking kabisan.<br />
4 Carita nggoningsun nular, wong tuwa kang momong dhingin, akeh kang sugih carita, sun rungokken rina wengi, samengko maksih eling sawise diwasaningsun, bapak kang paring wulang, miwah ibu mituturi, tata-krama ing pratingkah kang raharja.<br />
5 Nanging padha ngestokena, pitutur kang muni tulis, yen sira nedya raharja, anggonen pitutur iki, nggoningsun ngeling-eling, pitutur wong sepuh-sepuh, muga padha bisaa, anganggo pitutur becik, ambrekati wuruke wong tuwa-tuwa.<br />
6 Lan aja na lali padha, mring luluhur ingkang dhingin, satindake denkawruhan, angurangi<br />
dhahar guling, nggone ambanting dhiri, amasuh sariranipun, temune kang sineja, mungguh<br />
wong nedha ing Widhi, lamun temen lawas enggale tinekan.<br />
7 Pangeran kang sipat murah, njurungi kajating dasih, ingkang temen tinemenan, pan iku ujaring dalil, nyatane ana ug, iya Ki Ageng ing Tarub, wiwitane nenedha, tan pedhot tumekeng siwi, wayah buyut canggah warenge kang tampa.<br />
8 Panembahan Senapatya, kang jumeneng ing matawis, iku kapareng lan mangsa, dhawuh nugrahaning Widhi, saturune lestari, saking brekating luluhur, mrih tulusing nugraha, ingkang kari-kari, wajib uga anirua lakunira.<br />
9 Mring luhur ing kuna-kuna, enggone ambanting dhiri, iya sakuwasanira, sakuwate anglakoni, nyegah turu sathithik, sarta nyuda dhaharipun, pirabara bisaa, kaya ingkang dhingin-dhingin, atirua sapratelon saprapatan.<br />
10 Ana ta silih bebasan, padha sinaua ugi, lara sajroning kapenak, suka sajroning prihatin, lawan ingkang prihatin, mapan suka ing jronipun, iku densinaua, lan mati sajroning urip, ing wong kuna pan mangkono kang dengulang.<br />
11 Pamoring Gusti kawula, pan iku ingkang sayekti, dadine sotya ludira, iku den waspada ugi, gampangane ta kaki, tembaga lawan mas iku, linebur ing dahana, luluh amor dadi siji, mari nama kencana miwah tembaga.<br />
12 Ingaranana kencana, pan wus kamoran tembagi, ingaranana tembaga, wus kamoran kencana di, milila dipun wastani, mapan suwasa puniku, pamore mas tembaga, pramila namane salin, lan rupane sayekti puniku beda.<br />
13 Cahya abang tuntung jenar, punika suwasa murni, kalamun gawe suwasa, tembagane nora becik, pambesote tan resik, utawa nom emasipun, iku dipunpandhinga, sorote pesthi tan sami, pan suwasa bubul arene punika.<br />
14 Yen arsa karya suwasa, darapon dadine becik, amilihana tembaga, oleha tembaga prusi, binesot ingkang resik, sarta mase ingkang sepuh, resik tan kawoworan, dhasar sari pasthi dadi, iku kena ingaran suwasa mulya.<br />
15 Puniku mapan upama, tepane badan puniki, lamun arsa ngawruhana, pamore kawula Gusti, sayekti kudu resik, aja katempelan nepsu, luwamah lan amarah, sarta suci lair batin, dadi mene sarira bisaa tunggal.<br />
16 Lamun ora mangkonoa, sayektine nora dadi, mungguh ngelmu ingkang nyata, nora kena densasabi, ewuh gampang sayekti, puniku wong duwe kawruh, gampang yen winicara, angel yen durung marengi, ing wektune binuka jroning wardaya.<br />
17 Nanging ta sabarang karya, kang kinira dadi becik, pantes dentalatenana, lawas-lawas mbok pinanggih, denmantep jroning ati, ngimanken tuduhing guru, aja uga bosenan, kalamun arsa utami, mapan ana dalile kang wus kalakyan.<br />
18 Para luluhur sadaya, nggone nenedha mring Widhi, bisaa mbaboni praja, dadi ugering rat Jawi, saking talaten ugi, enggone katiban wahyu, ing mula mulanira, lakuning luluhur dhingin, andhap asor enggone anamur lampah.<br />
19 Tapane nganggo alingan, pan sami alaku tani, iku kang kinarya sasab, pamrihe aja katawis, ujubriya lan kibir, sumungah ing siningkur, lan endi kang kanggonan, wahyuning karaton Jawi, tinempelan anggenipun kumawula.<br />
20 Puniku laku utama, tumindak sarta kekelir, nora ngatingalken lampah, wadine kang denalingi, panedyane ing batin, pan jero pangarahipun, asore ngelmu rasa, prayoga tiniru ugi, anak putu aja na tinggal lanjaran.<br />
21 Lawan ana kang wasiyat, prasapa kang dhingin-dhingin, wajib padha kawruhana, mring anak putu kang kari, lan aja na kang lali, anerak wewaleripun, marang luluhur padha, kang minulyakken ing Widhi, muga-muga mupangatana kang darah.<br />
22 Wiwitan kang aprasapa, Ki Ageng ing Tarub weling, ing satedhak turunira, tan rinilan nganggo keris, miwah waos tan keni, kang awak waja puniku, lembu tan kena dhahar, daginge lan ora keni, angingua marang wong Wandhan tan kena.<br />
23 Dene Ki Ageng Sesela, prasapane ora keni, ing satedhak turunira, nyamping cindhe denwaleri, kalawan nora keni, ing ngarepan nandur waluh, wohe tan kena mangan, Panembahan Senapati, ing ngalaga punika ingkang prasapa.<br />
24 Ing satedhak turunira, mapan nora denlilani, nitih kuda ules napas, lan malih dipunwaleri, nitih turangga ugi, kang kokoncen surinipun, dhahar ngungkurken lawang, ing wuri tan na nunggoni, dipunemut aja na nerak prasapa.<br />
25 Jeng Sultan Agung Mataram, prasapane nora keni, mring tedhake yen nitiha, jaran bendana yen jurit, nanggo waos tan keni, kang landheyan kayu wergu, lan tan ingaken darah, yen tan bisa tembang Kawi, pan prayoga satedhak sinaua.<br />
26 Jeng Sunan Pakubuwana, kang jumeneng ing Samawis, kondur madeg Kartasura, prasapanipun tan keni, nenggih kalamun nitih, dipangga saturunipun, Sunan Prabu Mangkurat, waler mring saturuneki, tan linilan ngujung astana ing Betah.<br />
27 Lawan tan kena nganggoa, dhuwung sarungan tan mawi, kandelan yen nitih kuda, kabeh ajaa na kang lali, lan aja na nggagampil, puniku prasapanipun, nenggih Jeng Susuhunan, Pakubuwana ping kalih, mring satedhak turunira linarangan.<br />
28 Mangan apyun nora kena, sineret tan den lilani, inguntal pan linarangan, sapa kang wani nglakoni, narajang waler iki, yen nganti kalebon apyun, pan kena ing prasapa, jinabakken tedhakneki, Jeng Susuhunan ingkang sumare Nglaweyan.<br />
29 Prasapa Jeng Susuhunan, Pakubuwana kaping tri, mring satedhak turunira, mapan datan denlilani, agawe andel ugi, wong kang seje jinisipun, puniku linarangan, anak putu wuri-wuri, aja na kang wani nrajang prasapa.<br />
30 Wonten waler kaliwatan, saking luluhur kang dhingin, linarangan angambaha, wana Krendhawahaneki, dene kang amaleri, sang Dananjaya ing dangu, lan malih winaleran, kabeh tedhake Matawis, yen dolana ing wana Rami tan kena.<br />
31 Dene sisirakanira, yen tedhak ing Demak ugi, anganggo wulung tan kena, lawan ta kang nyirik malih, bebed lonthan tan kena, kalamun tedhak Madiyun, lan payung dhanddhan abang, tedhak Madura tan keni, nganggo poleng lan bathikan parang-rusak.<br />
32 Tedhaking Kudus tan kena, adhahara daging sapi, tedhaking Sumenep ika, nora kena ajang piring, watu pan datan keni, dhahar kidang dagingipun, mapan ta linarangan, godhong palasa kinardi, ajang mangan pan puniku nora kena.<br />
33 Kabeh anak putu padha, eling-elingen ywa lali, prasapa kang kuna-kuna walering luluhur dhingin, estokna ing jro ngati, aja nganti nemu dudu, kalamun wani nerak, pasthi tan manggih basuki, Sinom Salin Girisa ingkang atampa.<br />
<strong>XIII. Girisa</strong><br />
1 Anak putu denestokna, warah wuruke si bapa, aja na ingkang sembrana, marang wuruke wong tuwa, ing lair batin den bisa, anganggo wuruking bapa, ing tyas den padha santosa, teguheno jroning nala.<br />
2 Aja na kurang panrima, ing papasthening sarira, yen saking Hyang Mahamulya, nitahken ing badanira, lawan dipunawas uga, asor luhur waras lara, tanapi begja cilaka, urip tanapi antaka.<br />
3 Iku saking ing Hyang Suksma, miwah ta ing umurira, kang cendhak lawan kang dawa, wus pinesthi mring Hyang Suksma, duraka yen maidoa, miwah kuranga panrima, ing lohkilmahfule kana, tulisane pan wis ana.<br />
4 Yogya padha kawruhana, sisikune badanira, ya marang Hyang Mahamurba, kang misesa marang sira, yen sira durung uninga, prayoga atatakona, mring kang padha wruh ing makna, iku kang para ngulama.<br />
5 Kang wis wruh rahsaning kitab, darapon sira weruha, wajib mokaling Hyang Suksma, miwah wajibing kawula, lan mokale kawruhana, miwah ta ing tata-krama, sarengat dipunwaspada, batal karam takokena.<br />
6 Sunat lan perlu punika, prabot kanggo saben dina, iku kaki dipunpadha, terang ing pitakonira, lan aja bosen jagongan, marang kang para ngulama, miwah uwong kang sampurna, pangawruhe mring Hyang Suksma.<br />
7 Miwah patrap tata-krama, ing tindak-tanduk myang basa, kang tumiba marang nistha, tuwin kang tumibeng madya, tanapi tibeng utama, iku sira takokena, ya marang wong kang sujana, miwah ing wong tuwa-tuwa.<br />
8 Kang padha bisa micara, tuwin ingkang ulah sastra, iku pantes takonana, bisa madhangken tyasira, karana ujaring sastra utama teka carita, ingkang kinarya gondhelan, amurukken mring wong mudha.<br />
9 Lawan sok karepa maca, sabarang layang carita, aja anampik mring layang, carita kang kuna-kuna, layang babad kawruhana, caritane luhurira, darapon sira weruha, lalakone wong prawira.<br />
10 Miwah lalakon nalika, kang para Wali sadaya, kang padha oleh nugraha, asale saking punapa, miwah kang para satriya, kang digdaya ing ayuda, lakune sira tirua, lalabetan kang utama.<br />
11 Nora susah amirungga, mungguh lakuning satriya, carita kabeh pan ana, kang nistha lan kang utama, kang asor kang luhur padha, miwah lakuning nagara, pan kabeh aneng carita, ala becik sira wruha.<br />
12 Yen durung mangarti sira, caritane takokena, ya marang wong tuwa-tuwa, kang padha wruh ing carita, iku ingkang dadi uga, mundhak kapinteranira, nanging ta dipunelingan, sabarang kang kapiyarsa.<br />
13 Aja na tiru si bapa, banget tuna bodho mudha, kethul tan duwe grahita, katungkul mangan anendra, nanging anak putu padha, mugi Allah ambukaa, marang ing pitutur yogya, kabeh padha anyakepa.<br />
14 Ing sawewekasing bapa, muga ta kalakonana, kabeh padha mituruta, panedhaningsun mring Suksma, lanang wadon salameta, manggiha suka raharja, ing dunya miwan akhirat, dinohna ing lara roga.<br />
15 Umure padha dawaa, padha atut aruntuta, marang sadulure padha, padha sugiha barana, tanapi sugiha putra, pepaka jalu wanodya, kalawan maninge aja, nganti kapegatan tresna.<br />
16 Padha uga denpracaya, aja sumelang ing nala, kabeh pitutur punika, mapan wahyuning Hyang Suksma, dhawuh mring sira sadaya, jalarane saking bapa, Hyang Suksma paring nugraha, marang anak ingsun padha.<br />
17 Den bisa nampani padha, mungguh sasmitaning Suksma, ingkang dhawuh maring sira, wineruhken becik ala, anyegah karepanira, marang panggawe kang ala, kang tumiba siya-siya, iku paparing Hyang Suksma.<br />
18 Paring peling marang sira, tinuduhaken ing marga, kang bener kang kanggo uga, ing donya ingkang sampurna, mugi anak putu padha, kenaa dadi tuladha, kabecikaning manungsa, tinirua ing sujanma.<br />
19 Sakehing wong kapengina, aniru ing solah bawa, marang anak putu padha, anggepe wedi asiha, kinalulutan ing bala, kedhepa parantahira, tulusa mukti wibawa, ing satedhak-turunira.<br />
20 Dinohna saking duraka, winantua ing nugraha, sakeh anak putu padha, ingkang ngimanaken uga, marang pituturing bapa, Allah kang nyembadanana, ing padonganingsun iya, ing tyas ingsun wus rumasa.<br />
21 Wak ingsun upama surya, lingsir kulon wayahira, pedhak mring surupe uga, atebih maring timbulnya, pira lawase neng donya, ing kauripaning janma, mangsa nganti satus warsa, iya umuring manungsa.<br />
22 Mulane sun muruk marang, kabeh ing atmajaningwang, sun tulis sun wehi tembang, darapon padha rahaba, enggone padha amaca, sarta ngrasakken carita, aja bosan denapalna, ing rina wengi elinga.<br />
23 Lan mugi padha tirua, kaya luluhure padha, sudira betah atapa, sarta waskitha ing nala, ing kasampurnaning gesang, kang patitis nora mamang, iku ta panedhaningwang, muga padha kalakona.<br />
24 Titi tamat kang carita, serat wewaler mring putra, kang yasa serat punika, nenggih Kangjeng Susuhanan, Pakubuwana kaping pat, ing galih panedyanira, kang amaca kang miyarsa, yen lali muga elinga.<br />
25 Telasing panuratira, sasi Besar ping sangalas, Akad Kaliwon tahun Dal, tata guna swareng nata (1735), mangsastha windu Sancaya, wuku Sungsang kang atampa, ya Allah kang luwih wikan, obah osiking kawula.<br />
Kagungan dalem serat pawukon pananggalan yasan dalem ingkang sinuhun kangjeng Susuhunan Pakubuwana ingkang kaping pitu, tetedhakan yasanipun ingkang rama panjenengan dalem ingkang sinuhun Susuhunan Pakubuwana ingkang kaping sekawan. Kala dhawahing pangandika dalem, awitipun ingandikakaken ndehak ing dinten Sabtu Legi, wanci jam satunggil siyang, wuku: Tolu, tanggal kaping 17 Rejeb, mangsa kalima, ing tahun Jimawal. Angkaning warsa 1765 windu: Sancaya, sinangkalan: Misik Rasa Sabdaning Ratu. Ingkang nyerat abdi dalem carik Ngabei Sastrawijaya, ing Surakarta-adiningrat, ing kawan taun sampurna panedhakipun kagungan dalem serat wukon pananggalan sapanunggilipun, ing dinten Respati Manis, enjing wanci pukul 10, tanggal kaping 28, wulan Jumadilakir, wuku Gumbreg ing taun Be, sinangkalan: Sarira Rumasa Katitih ing Ratu, Windu: Sancaya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/393/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=393&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/15/serat-wulang-reh-%e2%80%93-sri-pakubuwana-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gempa 7,0 Skala Richter Goncang Maluku heboh di Twitter</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/14/gempa-70-skala-richter-goncang-maluku-heboh-di-twitter/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/14/gempa-70-skala-richter-goncang-maluku-heboh-di-twitter/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 05:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[heboh]]></category>
		<category><![CDATA[maluku]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini (14/3) telah terjadi gempa bumi berkekuatan 7,0 pada skala Richter di tenggara Labuha, Maluku Utara. Berdasarkan situs resmi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), gempa itu tidak berpotensi menimbulkan gelombang pasang atau tsunami. Tercatat waktu terjadi gempa pada pukul O7.57 WIB/09.57 WIT, dengan lokasi pusat gempa pada 1.58 Lintang Selatan &#8211; 128.20 Bujur Timur <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=386&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-387" href="http://javasun3.wordpress.com/2010/03/14/gempa-70-skala-richter-goncang-maluku-heboh-di-twitter/gempa-maluku/"><img class="alignright size-medium wp-image-387" title="gempa-maluku" src="http://javasun3.files.wordpress.com/2010/03/gempa-maluku.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a>Hari ini (14/3) telah terjadi gempa bumi berkekuatan 7,0 pada skala Richter di tenggara Labuha, Maluku Utara. Berdasarkan situs resmi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), gempa itu tidak berpotensi menimbulkan gelombang pasang atau tsunami.</p>
<p>Tercatat waktu terjadi gempa pada pukul O7.57 WIB/09.57 WIT, dengan lokasi pusat gempa pada 1.58 Lintang Selatan &#8211; 128.20 Bujur Timur di kedalaman 56 kilometer, tepatnya 132 kilometer di tenggara Labuha. Gempa dirasakan pula warga di Pulau Seram. Warga Ambon dan Pulau Seram merasakan gempa berkekuatan 4 Modified Mercally Intensity (MMI). Akibatnya warga panik dan keluar rumah.<span id="more-386"></span></p>
<p>Goncangan gempa di Maluku Utara 7 SR menjadi perbincangan internasional. Tema ini bahkan menjadi trending topic (TT) di mikroblogging Twitter dengan nama tema &#8220;Indonesia&#8221;.</p>
<p>Pemicu TT ini justru adalah posting Tweeps (pemilik akun Twitter) dari luar negeri. Tak terlalu banyak nama Tweeps lokal yang berbaur di TT ini.</p>
<p>&#8220;The scientists say that there aren&#8217;t any more earthquakes than usual! But WTF, another one just hit indonesia!&#8221; tulis pemilik akun The scientists say that there aren&#8217;t any more earthquakes than usual! But WTF, another one just hit indonesia!&#8221; demikian salah satu bunyi postingan.</p>
<p>&#8220;Damn quake hit Indonesia ..all this natural disaster shit is creepy,&#8221; tulis D_HecK</p>
<p>&#8220;Another earthqueake? Prayers out to Indonesia,&#8221; tulis Tweeps ber-ID blue_bandgeek26.</p>
<p>Pada pukul 09.43 WIB, TT &#8220;Indonesia&#8221; telah berada pada posisi 5 dari 10 tema TT.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/386/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=386&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/14/gempa-70-skala-richter-goncang-maluku-heboh-di-twitter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.files.wordpress.com/2010/03/gempa-maluku.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gempa-maluku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FALSAFAH DARI TEMBANG JOWO</title>
		<link>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/14/falsafah-dari-tembang-jowo/</link>
		<comments>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/14/falsafah-dari-tembang-jowo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 02:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[falsafah]]></category>
		<category><![CDATA[jowo]]></category>
		<category><![CDATA[tembang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://javasun3.wordpress.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Wong Jowo terkenal ngunoake filosofi-filosofi. Kabeh mesti ono filosofi sing dimaksud. Tembang wae yo ono filosofine. Nanging akeh wong jaman saiki sing ora ngerti tur ora gelem sinau opo nguri-uri kabudayan jowo. Urut-urutane tembang Jawa iku padha karo lelakoning manungsa saka mulai bayi abang nganti tumekaning pati.  Mungguh kaya mangkene urut-urutane tembang kaya kang tak <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=381&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wong Jowo terkenal ngunoake filosofi-filosofi. Kabeh mesti ono  filosofi sing dimaksud. Tembang wae yo ono filosofine. Nanging akeh wong  jaman saiki sing ora ngerti tur ora gelem sinau opo nguri-uri kabudayan  jowo.</p>
<p>Urut-urutane tembang Jawa iku padha karo lelakoning manungsa saka  mulai bayi abang nganti tumekaning pati.  Mungguh kaya mangkene  urut-urutane tembang kaya kang tak aturake ing ngisor iki:</p>
<p><strong>Maskumambang</strong><br />
Gambarake  jabang bayi sing isih ono kandhutane ibune, sing durung kawruhan lanang  utawa wadhon, Mas ateges durung weruh lanang utawa wadhon, kumambang  ateges uripe ngambang nyang kandhutane ibune.</p>
<p><strong>Mijil</strong><br />
ateges  wis lair lan jelas priya utawa wanita.<span id="more-381"></span></p>
<p><strong>Kinanthi</strong><br />
saka  tembung kanthi utawa tuntun kang ateges dituntun supaya bisa mlaku  ngambah panguripan ing alam ndonya.</p>
<p><strong>Sinom</strong><br />
tegese  kanoman, minangka kalodhangan sing paling penting kanggone remaja supaya  bisa ngangsu kawruh sak akeh-akehe.<img title="More..." src="http://javasun3.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></p>
<p><strong>Asmaradana</strong><br />
tegese  rasa tresna, tresna marang liyan ( priya lan wanita lan kosok baline )  kang kabeh mau wis dadi kodrat Ilahi.<br />
Gambuh<br />
saka tembung jumbuh /  sarujuk kang ateges yen wis jumbuh / sarujuk njur digathukake antarane  priya lan wanita sing padha nduweni rasa tresna mau, ing pangangkah  supaya bisaa urip bebrayan.</p>
<p><strong>Dandanggulo</strong><br />
Nggambarake  uripe wong kang lagi seneng-senenge, apa kang igayuh biso kasembadan.  Kelakon duwe sisihan / keluarga, duwe anak, urip cukup kanggo sak  kaluarga. Mula kuwi wong kang lagi bungah / bombong atine, bisa diarani  lagu ndandanggula.</p>
<p><strong>Durm0</strong><br />
Saka tembung darma / weweh.  Wong yen wis rumangsa kacukupan uripe, banjur tuwuh rasa welas asih  marang kadang mitra liyane kang lagi nandhang kacintrakan, mula banjur  tuwuhrasa kepengin darma / weweh marang sapadha &#8211; padha. Kabeh mau  disengkuyung uga saka piwulange agama lan watak sosiale manungsa.</p>
<p><strong>Pangkur</strong><br />
Saka  tembung mungkur kang ateges nyingkiri hawa nepsu angkara murka. Kang  dipikir tansah kepingin weweh marang sapadha &#8211; padha.</p>
<p><strong>Megatruh</strong><br />
Saka  tembung megat roh utawa pegat rohe / nyawane, awit wis titi wancine  katimbalan marak sowan mring Sing Maha Kuwasa.</p>
<p><strong>Pocung / Pucung</strong><br />
Yen  wis dadi layon / mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong sak  durunge dikubur.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/javasun3.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/javasun3.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/javasun3.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/javasun3.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/javasun3.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/javasun3.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/javasun3.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/javasun3.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/javasun3.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/javasun3.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/javasun3.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/javasun3.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/javasun3.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/javasun3.wordpress.com/381/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=javasun3.wordpress.com&amp;blog=4150308&amp;post=381&amp;subd=javasun3&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://javasun3.wordpress.com/2010/03/14/falsafah-dari-tembang-jowo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e01e567febcf6ecc62d5dd1c3a9f1de?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">javasun3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://javasun3.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">More...</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
