Museum Kereta Api Ambarawa

Diambil dari artikel Wikipedia

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum di Ambarawa, Jawa Tengah yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.The museum focuses on the collection of steam locomotives , the remains of the closing of the 3ft 6in (1067mm) railway line. Museum berfokus pada koleksi lokomotif uap, sisa-sisa penutupan 3Ft 6in (1067mm) rel kereta api.

Museum gedung dan lokasi

Ambarawa was a military city during the Dutch Colonial Government. King Willem I ordered the construction of a new railway station to enable the government to transport its troops to Semarang . Ambarawa adalah kota militer selama Pemerintah Kolonial Belanda. Raja Willem Aku memerintahkan pembangunan stasiun kereta api baru untuk memungkinkan pemerintah untuk mengangkut tentaranya ke Semarang. In May 21, 1873 the Ambarawa railway station was built on a 127,500 m² land. Pada 21 Mei 1873 di stasiun kereta api Ambarawa dibangun di atas lahan 127.500 m². This was known back then as Willem I Station. [ 2 ] Ini dulu dikenal sebagai Stasiun Willem saya. [2]

The Willem I Railway Station was originally a transhipment point between the 4ft 8½in (1435 mm) gauge branch from Kedungjati to the northeast and the 3ft 6in (1067 mm) gauge line onward towards Yogyakarta via Magelang to the south. The Willem saya Stasiun Kereta Api mula-mula merupakan titik transhipment antara 4ft 8 ½ in (1435 mm) mengukur cabang dari Kedungjati ke timur laut dan 3Ft 6in (1067 mm) baris mengukur dan seterusnya menuju Yogyakarta melalui Magelang ke selatan. It is still possible to see that the two sides of the station were built to accommodate different size trains. [ 3 ] Hal ini masih mungkin untuk melihat bahwa kedua sisi stasiun dibangun untuk mengakomodasi ukuran berbeda kereta.

The Ambarawa railway museum was established much later on October 6, 1976 in the Ambarawa Station to preserve the steam locomotives , which were then coming to the end of their useful lives when the 3ft 6in (1067 mm) gauge railways of the Indonesian State Railway (the Perusahaan Negara Kereta Api, PNKA) was closed. Museum kereta api Ambarawa didirikan lama kemudian pada 6 Oktober 1976 di Stasiun Ambarawa untuk melestarikan lokomotif uap, yang kemudian datang ke akhir hidup mereka berguna ketika 3Ft 6in (1067 mm) mengukur kereta api dari Negara Indonesia Kereta Api ( the Perusahaan Negara Kereta Api, PNKA) ditutup. “These are parked in the open air next to the original station”. Ini parkir di udara terbuka di samping stasiun asli.

Kereta Api baris

The 1067mm line that connects Magelang station and Willem I station, the station that is now a museum. Yang 1067mm Magelang garis yang menghubungkan stasiun dan Willem aku stasiun, stasiun yang sekarang menjadi museum.

The 3ft 6in (1067 mm) gauge line towards Yogyakarta (runs roughly south-west from Ambarawa) was of particular interest because it contained sections of rack railway between Jambu and Secang , the only such operation in Java. The 3Ft 6in (1067 mm) mengukur baris menuju Yogyakarta (membentang selatan-barat dari Ambarawa) adalah sangat menarik karena berisi bagian-bagian rak kereta api antara Jambu dan Secang, satu-satunya operasi seperti di Jawa. This line beyond Bedono closed in the early 1970s after it was damaged in an earthquake, but had already lost most of its passenger traffic to buses on the parallel road. Baris ini diluar Bedono ditutup pada awal 1970-an setelah itu rusak dalam sebuah gempa bumi, tetapi telah kehilangan sebagian besar lalu lintas penumpang untuk bus-bus di jalan paralel. The line from Kedungjati (runs east initially from Ambarawa) survived into the middle 1970s but saw very little traffic near the end, not least because it was far quicker to travel more directly by road to Semarang . Garis dari Kedungjati (menjalankan timur awalnya dari Ambarawa) selamat ke tengah 1970-an tapi sangat jarang melihat lalu lintas di dekat akhir, paling tidak karena jauh lebih cepat untuk bepergian secara lebih langsung dengan jalan ke Semarang. The presence of the rack line meant that there was probably never much through traffic from Semarang to Yogyakarta. [ 3 ] Kehadiran garis rak berarti bahwa ada mungkin tidak banyak melalui lalu lintas dari Semarang ke Yogyakarta

Koleksi

The museum collected 21 steam locomotives. Museum mengumpulkan 21 uap lokomotif. Currently four locomotives are operational. Saat ini empat lokomotif yang beroperasi. Other collections of the museum include old telephones, morse telegraph equipments, old bells and signals equipments, and some antique furnitures.  Koleksi lain museum tua termasuk telepon, telegraf morse peralatan, lonceng tua dan peralatan sinyal, dan beberapa furniture antik.

B2502 Steam Locomotive, one of the four locomotives that are still active. Lokomotif B2502 Uap, salah satu dari empat lokomotif yang masih aktif.

Some of the steam locomotives are the 2 B25 0-4-2T B2502/3 which is from the original fleet of 5 supplied to the line about 100 years ago (A third locomotive (B2501) is preserved in a park in the town nearby.) The E10 0-10-0T E1060 which was originally delivered to West Sumatra in the 1960s for working the coal railway, but later was brought to Java , and a conventional locomotive 2-6-0T C1218 which was restored to working order in 2006. [ 3 ] Beberapa lokomotif uap adalah 2 B25 0-4-2T B2502 / 3 yang berasal dari armada asli dari 5 baris yang disediakan untuk sekitar 100 tahun yang lalu (lokomotif ketiga (B2501) tersimpan di sebuah taman di kota di dekatnya. ) The E10 0-10-0T E1060 yang semula dikirimkan ke Sumatra Barat pada tahun 1960 untuk bekerja kereta api batu bara, tetapi kemudian dibawa ke Jawa, dan lokomotif konvensional 2-6-0T C1218 yang dikembalikan ke urutan kerja pada tahun 2006.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: